
Elon Musk yang mengendalikan ribuan satelit Starlink di orbit Bumi sebagai simbol dominasinya atas langit dan internet global. (The Independent)
JawaPos.com — Dominasi Elon Musk di ruang angkasa dan jaringan komunikasi global kini mencapai titik paling krusial dalam sejarah industri antariksa modern. Melalui perusahaan SpaceX, Musk baru saja menempatkan satelit Starlink ke-10.000 di orbit rendah Bumi. Kini, Bos Starlink itu menguasai sekitar dua pertiga dari total satelit aktif yang beroperasi di seluruh dunia.
Pencapaian ini memperluas jangkauan internet global hingga ke wilayah paling terpencil, tetapi sekaligus memunculkan kekhawatiran mendalam terkait keamanan orbit, ketimpangan kekuatan industri, dan dampak geopolitik yang semakin tak terhindarkan.
Pada Agustus 2019, Badan Antariksa Eropa (European Space Agency/ESA) sempat memperingatkan potensi tabrakan antara satelit pengamat cuaca “Aeolus” dan salah satu satelit Starlink. Ketika komunikasi dengan SpaceX terhenti akibat gangguan sistem yang disebut perusahaan sebagai “bug”, ESA terpaksa melakukan manuver penghindaran pertama dalam sejarah lembaganya.
“Sistem Starlink sebenarnya sudah lebih maju dalam beberapa aspek, termasuk manuver aktif, pemantauan berkelanjutan, dan penyiaran posisi secara terbuka,” ujar Dr. Siamak Hesar, Kepala Eksekutif kontraktor NASA, Kayhan Space, dikutip dari The Independent, Senin (27/10/2025).
Meski begitu, para pakar memperingatkan bahwa kepadatan satelit seperti ini dapat memicu Kessler Syndrome, rangkaian tabrakan yang menciptakan awan puing berbahaya dan berpotensi melumpuhkan orbit Bumi selama puluhan tahun. Kekhawatiran tersebut tidak terlepas dari skala penguasaan SpaceX yang kian masif di orbit rendah.
Dominasi Musk kini terlihat dari data bahwa dari total sekitar 12.955 satelit aktif di orbit rendah hingga Oktober 2025, sebanyak 8.562 di antaranya merupakan bagian dari konstelasi Starlink—lebih dari 66 persen.
Dalam sebuah unggahan di platform X, Musk bahkan menanggapi pernyataan bahwa “SpaceX adalah program antariksa Amerika Serikat” dengan menulis, “Ini pada dasarnya adalah program antariksa Bumi.”
Selain itu, SpaceX diperkirakan akan mengangkut hingga 90 persen dari total massa muatan luar angkasa dunia pada 2025, memecahkan rekor 138 peluncuran roket dalam setahun. Namun, dominasi ini tidak hanya berdampak pada ranah teknologi.
Dalam konflik Rusia–Ukraina, jaringan Starlink telah menjadi “tulang punggung utama komunikasi” bagi militer Ukraina. Akan tetapi, keputusan Musk menolak permintaan pemerintah Ukraina untuk mengaktifkan jaringan di sekitar Krimea memunculkan kritik keras.
Penasihat Presiden Ukraina, Mykhailo Podolyak, menuduh Musk “melakukan tindakan jahat” yang berpotensi menimbulkan korban sipil.
Peringatan serupa datang dari Patrice Caine, CEO Thales, salah satu produsen satelit terbesar di Eropa, yang menyatakan, “Pemerintah membutuhkan keandalan, visibilitas, dan stabilitas. Dalam komunikasi negara, ketergantungan terhadap individu eksternal bukanlah pilihan yang bijak.”
Selain persoalan geopolitik, risiko lingkungan juga semakin mengemuka. Setiap satelit Starlink memiliki masa pakai rata-rata lima tahun, dan penelitian memperkirakan satu hingga dua satelit milik Musk jatuh ke atmosfer setiap hari.
Studi dari Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (National Oceanic and Atmospheric Administration/NOAA) menunjukkan bahwa partikel logam dari satelit yang terbakar dapat meningkatkan suhu lapisan atas atmosfer hingga 1,5 derajat Celsius. Para ilmuwan menilai dampak jangka panjang dari fenomena ini masih belum sepenuhnya dipahami.
Padatnya orbit rendah Bumi dengan konstelasi besar yang dimiliki perusahaan swasta dan negara lain meningkatkan risiko tabrakan beruntun. Jika skenario Kessler Syndrome terjadi, peluncuran satelit baru maupun misi luar angkasa dapat terhambat selama bertahun-tahun. Ironisnya, ambisi Musk untuk mendanai koloni manusia di Mars melalui proyek Starlink bisa terhenti di Bumi akibat konsekuensi dari jaringan satelitnya sendiri.
Dominasi Elon Musk atas ruang angkasa dan jaringan komunikasi dunia kini menempatkannya pada posisi unik: seorang individu swasta yang memiliki kekuasaan strategis atas infrastruktur global yang vital. Namun, tanpa regulasi internasional yang tegas, transparansi operasional, dan koordinasi antarlembaga, dominasi ini berisiko menjadi bumerang, mengubah visi konektivitas global menjadi ancaman terhadap keamanan orbit dan keberlanjutan masa depan manusia di langit. (*)
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
