Logo JawaPos
Author avatar - Image
04 November 2025, 17.44 WIB

Krisis Iklim dan Keadilan Antar-Generasi: Saat Anak Muda Harus Menanggung Dampak Terberat dari Keputusan Masa Kini

Ilustrasi generasi muda menghadapi krisis iklim global, sementara dunia terus memanas akibat tindakan manusia. (The Conversation) - Image

Ilustrasi generasi muda menghadapi krisis iklim global, sementara dunia terus memanas akibat tindakan manusia. (The Conversation)

JawaPos.com — Perubahan iklim kini diakui sebagai salah satu tantangan moral dan sosial terbesar di abad ke-21. Tahun 2024 tercatat sebagai tahun terpanas dalam sejarah, sekaligus mencatat kadar karbon dioksida (CO₂) tertinggi dalam dua juta tahun terakhir.

Peningkatan suhu global ini memicu lebih banyak bencana ekstrem seperti kebakaran hutan, banjir, serta kekeringan yang mengancam kehidupan manusia di seluruh dunia.

Namun, dampaknya tidak dirasakan secara merata. Generasi muda dan anak-anak menjadi kelompok yang paling lama menanggung konsekuensi dari krisis iklim ini, bahkan sebelum mereka memiliki kesempatan untuk memengaruhi kebijakan atau arah pembangunan.

Fenomena ini dikenal sebagai krisis keadilan antar-generasi (intergenerational justice crisis), di mana keputusan hari ini akan menentukan beban hidup generasi mendatang.

Dilansir dari The Conversation, Senin (3/11/2025), anak-anak dan remaja kini membentuk sepertiga populasi Australia dan menghadapi risiko lebih besar akibat perubahan iklim. Karena masih berada pada tahap perkembangan fisiologis dan kognitif awal, mereka lebih rentan terhadap bencana alam seperti kekeringan, gagal panen, atau banjir besar.

PBB memperingatkan bahwa setiap anak di Australia berpotensi mengalami lebih dari empat gelombang panas per tahun, sementara lebih dari dua juta anak diperkirakan tinggal di wilayah yang menghadapi gelombang panas berkepanjangan selama empat hari atau lebih.

Dampak Fisik, Mental, dan Sosial yang Mengkhawatirkan

Sebuah laporan terbaru menemukan bahwa lebih dari satu juta anak dan remaja di Australia mengalami bencana iklim atau cuaca ekstrem setiap tahunnya.

“Itu berarti satu dari enam anak terpapar langsung dampak perubahan iklim,” tulis laporan tersebut. Anak-anak dari keluarga berpenghasilan rendah, wilayah terpencil, serta komunitas Pribumi adalah kelompok yang paling rentan.

Dampak yang mereka rasakan tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga psikologis. Ketakutan, kecemasan, dan rasa frustrasi akibat perubahan iklim kini menjadi beban mental yang besar bagi generasi muda di seluruh dunia.

Bagi mereka yang hidup di wilayah terdampak, masalah ini semakin kompleks karena disertai tantangan lain seperti gangguan pendidikan, kehilangan tempat tinggal, serta kesulitan ekonomi.

Situasi ini diperparah oleh meningkatnya ketimpangan sosial dan keterbatasan akses terhadap kebutuhan dasar. Mantan Sekretaris Perbendaharaan Australia, Ken Henry, bahkan menyebut kondisi tersebut sebagai “tragedi antar generasi” akibat kegagalan pemerintah dalam menanggapi ancaman iklim secara serius.

Meski Menteri Keuangan Australia, Jim Chalmers, menegaskan bahwa “keadilan antar generasi adalah prinsip mendasar bagi negara kami,” isu perubahan iklim hampir tak disinggung dalam pemilu federal Mei 2025.

Ironisnya, keputusan besar pertama pemerintahan Albanese setelah terpilih kembali justru memperpanjang proyek gas Woodside di pesisir barat Australia hingga tahun 2070, yang berpotensi menambah 87 juta ton emisi karbon dioksida setiap tahunnya.

Harapan dari Gerakan Anak Muda dan Kebijakan Baru

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore