
Pejabat Departemen Kehakiman Amerika Serikat memberikan pernyataan resmi terkait dakwaan terhadap operator ransomware LockBit. (United States Department of Justice (DOJ))
JawaPos.com - Upaya kolaboratif lembaga penegak hukum internasional berhasil menorehkan capaian besar dalam pemberantasan kejahatan siber global. Melalui operasi gabungan bertajuk Operation Cronos, otoritas Inggris, Amerika Serikat, dan sejumlah negara lain berhasil melumpuhkan infrastruktur utama kelompok ransomware LockBit, salah satu jaringan kriminal siber paling aktif dan merusak dalam beberapa tahun terakhir.
Menurut laporan World Economic Forum (WEF), operasi yang dipimpin oleh National Crime Agency (NCA) Inggris dan Federal Bureau of Investigation (FBI) Amerika Serikat tersebut berhasil mengambil alih situs gelap (dark web) LockBit yang selama ini digunakan untuk mempublikasikan data curian dan menekan korban agar membayar tebusan. Dalam pengambilalihan itu, penegak hukum juga mendapatkan lebih dari 1.000 kunci dekripsi, yang kini dapat digunakan untuk membantu korban memulihkan data tanpa harus membayar pelaku.
Direktur Jenderal NCA, Graeme Biggar, menyebut keberhasilan ini sebagai “gangguan signifikan” terhadap operasi LockBit. Ia menegaskan bahwa penegak hukum telah “meng-hack para hacker” dengan mengambil alih infrastruktur, mengakses source code, dan mengamankan data yang sebelumnya dikuasai pelaku.
Di balik disrupsi besar tersebut, Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ) pada 7 Mei 2024 juga mengumumkan dakwaan terhadap seorang warga negara Rusia, Dmitry Yuryevich Khoroshev, yang diduga menjadi pengembang utama dan operator dari ransomware LockBit.
Dalam rilis resminya, DOJ menyebut Khoroshev beroperasi menggunakan alias “LockBitSupp” dan memainkan peran sentral dalam mengatur model Ransomware-as-a-Service (RaaS), di mana para afiliasi diberi akses untuk melakukan serangan dan hasil tebusan dibagi berdasarkan persentase tertentu.
DOJ menuding Khoroshev memperoleh keuntungan yang sangat besar dari aktivitas tersebut, termasuk hingga US$ 100 juta dalam bentuk mata uang kripto. Ia juga menghadapi 26 dakwaan, mulai dari penipuan komputer, pemerasan, hingga konspirasi kriminal, yang total hukumannya mencapai 185 tahun penjara. Pemerintah AS bahkan menawarkan hadiah hingga US$ 10 juta bagi siapa pun yang memberikan informasi yang dapat membantu penangkapannya.
Penelitian akademis terbaru yang diunggah di platform arXiv turut mengungkap detail struktur teknis dan operasional LockBit. Melalui analisis panel manajemen, log negosiasi, hingga aliran transaksi Bitcoin, studi tersebut menunjukkan bahwa LockBit memiliki pola kerja yang tersusun rapi, mulai dari penyebaran malware, strategi negosiasi tebusan, hingga mekanisme pencucian dana melalui berbagai alamat kripto. Peneliti menemukan bahwa sebagian besar pembayaran tebusan diarahkan ke dua alamat besar yang berperan sebagai pengumpul dana, sebelum kemudian dialirkan kembali kepada afiliasi.
Dengan keberhasilan Operation Cronos, para ahli meyakini bahwa kolaborasi internasional kini menjadi kunci menghadapi kelompok ransomware berskala global. Meski demikian, laporan akademik memperingatkan bahwa kelompok seperti LockBit memiliki kemampuan untuk beregenerasi dan muncul kembali dalam bentuk baru. Oleh karena itu, upaya pencegahan, peningkatan keamanan digital, serta kerja sama lintas negara menjadi strategi yang tak terpisahkan dalam menghadapi ancaman kejahatan siber modern. (*)
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
