
Perempuan dan non-biner memeluk pohon sebagai bentuk protes ekologis, simbol ikonik ekofeminisme dan komitmen terhadap alam. (The Guardian)
JawaPos.com - Pembahasan mengenai ekofeminisme kembali ramai di tingkat global seiring meningkatnya tekanan krisis iklim dan persoalan ketidakadilan gender. Sejumlah publikasi internasional menilai bahwa perempuan dan kelompok rentan lainnya kini berada di garis depan ketika terjadi kerusakan lingkungan, membuat pendekatan ekofeminis kembali dianggap relevan.
Dalam laporan terbaru yang diterbitkan oleh Springer tahun 2024, para peneliti menegaskan bahwa perempuan kerap menanggung dampak paling besar dari eksploitasi sumber daya alam. Studi tersebut menggarisbawahi bagaimana sistem sosial dan ekonomi yang didominasi nilai-nilai patriarki membuat perempuan serta masyarakat kelas bawah lebih rentan menghadapi bencana ekologis, kekurangan pangan, hingga perubahan iklim. Menurut artikel Springer, ekofeminisme perlu dipandang sebagai kerangka kritik yang dapat menghubungkan isu lingkungan, sosial, dan gender dalam pembuatan kebijakan.
Sementara itu, artikel yang dimuat oleh PMC/NIH pada 2023 menyoroti dimensi lain dari ekofeminisme, khususnya kaitannya dengan nilai-nilai perawatan dan solidaritas. Penelitian tersebut menunjukkan bagaimana masa pandemi memperlihatkan beban kerja yang jauh lebih berat bagi perempuan, terutama dalam urusan rumah tangga, kesehatan, dan dukungan sosial. Temuan itu menegaskan bahwa pendekatan ekofeminisme tidak hanya berbicara soal lingkungan, tetapi juga tentang hubungan antarmanusia dan bagaimana solidaritas dapat menjadi kekuatan dalam menghadapi krisis.
Kajian yang dirilis oleh IJESR pada 2023 menambahkan bahwa ekofeminisme kini berkembang menjadi pendekatan lintas disiplin. Dalam analisis tersebut, persoalan lingkungan dipahami tidak bisa dilepaskan dari faktor ekonomi, politik, hingga pembangunan. Penelitian itu menyebut bahwa banyak negara berkembang menghadapi situasi di mana eksploitasi alam berjalan beriringan dengan penindasan terhadap perempuan, sehingga ekofeminisme penting untuk membaca persoalan tersebut secara lebih menyeluruh.
Di sisi lain, publikasi dari IJFMR pada 2025 menguraikan berbagai ragam pemikiran ekofeminisme yang berkembang selama beberapa dekade terakhir. Penelitian tersebut menjelaskan bahwa ekofeminisme modern tidak lagi terjebak pada pandangan lama yang menganggap perempuan memiliki kedekatan alami dengan alam. Sebaliknya, aliran-aliran ekofeminisme saat ini lebih fokus pada kritik terhadap struktur kekuasaan, ketimpangan ekonomi global, serta bagaimana sistem tersebut memengaruhi kerusakan lingkungan.
Dari berbagai penelitian internasional itu, terlihat bahwa ekofeminisme menawarkan cara pandang baru tentang hubungan antara manusia dan alam, terutama dalam membaca siapa yang paling terdampak oleh krisis ekologis. Para ahli sepakat bahwa dengan memasukkan perspektif gender ke dalam isu lingkungan, negara maupun komunitas dapat merancang kebijakan yang lebih sensitif, adil, dan berkelanjutan. (*)
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
