
Perdana Menteri sementara Thailand Anutin Charnvirakul membubarkan DPR Thailand. (AP)
JawaPos.com - Keputusan Thailand membubarkan parlemen atau DPR-nya di tengah meningkatnya ketegangan di perbatasan dengan Kamboja memunculkan kekhawatiran baru.
Sejumlah analis menilai langkah ini berpotensi menciptakan kekosongan kekuasaan yang justru memperkuat sentimen nasionalisme dan meningkatkan risiko eskalasi konflik, yang hingga kini telah berlangsung selama enam hari tanpa tanda-tanda mereda.
Pembubaran parlemen dilakukan Perdana Menteri sementara Anutin Charnvirakul pada malam 11 Desember. Dalam pernyataannya, Anutin menyebut pemerintahannya sudah tidak lagi mampu menjalankan roda pemerintahan secara berkelanjutan, efektif, dan stabil di tengah tekanan politik domestik yang kian berat.
Meski secara resmi diposisikan sebagai upaya 'reset demokrasi', keputusan tersebut langsung menimbulkan pertanyaan krusial: siapa yang kini memegang kendali penuh atas kebijakan keamanan nasional Thailand, terutama saat konflik perbatasan sedang memanas?
Peran Militer Menguat di Masa Transisi
Pavin Chachavalpongpun, profesor di Centre for Southeast Asian Studies, Universitas Kyoto, menilai pembubaran parlemen membuat posisi militer Thailand semakin kuat dan relatif tanpa pengawasan politik yang efektif.
Menurutnya, angkatan bersenjata tetap beroperasi berdasarkan kerangka hukum yang ada, termasuk penerapan hukum darurat dan darurat militer di wilayah tertentu, yang memberi ruang diskresi sangat luas dalam operasi keamanan.
“Dalam situasi pemerintahan sementara, keputusan jangka panjang praktis tidak bisa diambil,” ujar Pavin mengutip CambodiaNess.
“Pilihan diplomasi menjadi terbatas, dan risiko bentrokan berlanjut meningkat karena tidak ada pihak yang memiliki mandat kuat untuk merundingkan penyelesaian permanen," lanjut Pavin.
Ia menegaskan, dialog substansial baru mungkin dilakukan setelah terbentuk pemerintahan baru yang memiliki legitimasi penuh pasca pemilu.
Menurut Pavin, bentrokan terbaru di perbatasan telah memicu lonjakan nasionalisme di dalam negeri Thailand. Tekanan publik agar pemerintah bersikap lebih tegas terhadap Kamboja pun meningkat.
Dengan pemilihan umum yang diperkirakan digelar dalam 45 hingga 60 hari ke depan, ia memperkirakan partai-partai politik akan mengadopsi retorika nasionalistik yang lebih tajam demi meraih dukungan pemilih.
“Situasi seperti ini biasanya menguntungkan partai-partai berhaluan keamanan atau konservatif. Kelompok yang mendorong reformasi struktural justru sering diserang karena dianggap ragu-ragu. Pemilu cenderung memperkeras retorika nasionalisme, bukan meredamnya," jelasnya.
Pandangan serupa disampaikan analis geopolitik Seng Vanly. Ia menilai kegagalan Anutin mendorong reformasi konstitusi membuat pemilu dini tak terelakkan. Dalam kondisi tersebut, militer diperkirakan akan mengelola situasi perbatasan dengan keterlibatan sipil yang sangat terbatas.
“Tanpa tekanan internasional yang terkoordinasi, krisis ini berpotensi memburuk,” kata Vanly.
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
