Logo JawaPos
Author avatar - Image
05 Januari 2026, 20.52 WIB

Maduro Bukan yang Pertama: Dari Saddam Hussein hingga Noriega, Jejak Panjang Intervensi Amerika Serikat terhadap Pemimpin Dunia

Saddam Hussein menjalani persidangan di Baghdad atas tuduhan kejahatan terhadap kemanusiaan, menyoroti intervensi AS terhadap pemimpin asing (Dok. Al Jazeera) - Image

Saddam Hussein menjalani persidangan di Baghdad atas tuduhan kejahatan terhadap kemanusiaan, menyoroti intervensi AS terhadap pemimpin asing (Dok. Al Jazeera)

JawaPos.com - Presiden Venezuela Nicolas Maduro mendadak menjadi pusat perhatian geopolitik global setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim bahwa pasukan AS telah menangkap Maduro dan istrinya, Cilia Flores, dalam sebuah operasi militer berskala besar. 

Klaim tersebut segera mengguncang diplomasi internasional dan menghidupkan kembali perdebatan lama mengenai legitimasi intervensi Washington terhadap kepala negara asing.

Dilansir dari Al Jazeera, Senin (5/1/2026), Trump menyampaikan melalui platform Truth Social bahwa pasukan AS telah melancarkan serangan terhadap target militer Venezuela, melumpuhkan fasilitas utama, serta "menangkap Presiden Nicolas Maduro beserta istrinya dan menerbangkan mereka keluar dari negara itu." Trump menegaskan operasi ini berkaitan dengan perang AS melawan penyelundupan narkotika dan jaringan yang ia sebut sebagai “kartel narkoba yang dilindungi rezim Venezuela."

Namun, pernyataan tersebut langsung dibantah Caracas. Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodríguez menyatakan pemerintah tidak mengetahui keberadaan Maduro dan Flores.

"Kami menuntut bukti bahwa Presiden Nicolas Maduro dan Ibu Negara Cilia Flores masih hidup," ujar Rodríguez dalam pesan audio yang disiarkan televisi pemerintah. Pemerintah Venezuela menilai klaim AS sebagai tindakan ilegal terhadap negara berdaulat.

Seiring meningkatnya ketegangan geopolitik, laporan penangkapan Maduro segera dibandingkan dengan sejumlah peristiwa bersejarah ketika Amerika Serikat secara langsung menangkap atau menggulingkan kepala negara lain. 

Dalam berbagai kasus tersebut, Washington kerap membingkai langkahnya sebagai bagian dari penegakan hukum, perlindungan keamanan nasional, atau upaya menjaga stabilitas regional. Catatan berikut merangkum sejumlah pemimpin negara yang pernah menjadi sasaran langsung intervensi tersebut.

1. Nicolas Maduro (Venezuela, 2026)

Kasus Maduro menjadi yang terbaru dan paling kontroversial. Sejak lama, AS menuduh Maduro terlibat dalam "narcoterrorism" dan perdagangan narkotika lintas negara. 

Tuduhan itu dibantah Venezuela, yang menyebutnya sebagai alat tekanan politik. Jika klaim penangkapan ini terbukti, Maduro akan menjadi presiden aktif pertama di Amerika Latin dalam beberapa dekade terakhir yang ditangkap langsung oleh pasukan AS.

2. Manuel Noriega (Panama, 1990)

Preseden klasik yang sering dikutip adalah Manuel Noriega, mantan pemimpin militer Panama. Pada 1989, Amerika Serikat menginvasi Panama dengan dalih melindungi warga negaranya, menegakkan demokrasi, dan memberantas perdagangan narkotika. 

Noriega, yang sebelumnya merupakan mitra intelijen AS, ditangkap dan diterbangkan ke Miami untuk diadili atas tuduhan narkotika. Ia menjalani hukuman penjara di AS hingga 2010 sebelum diekstradisi ke Prancis, dan kemudian kembali ke Panama, tempat ia meninggal pada 2017.

3. Saddam Hussein (Irak, 2003–2006)

Di Timur Tengah, Saddam Hussein menjadi contoh paling dramatis. Ia ditangkap pasukan AS pada 13 Desember 2003, sembilan bulan setelah invasi AS dimulai pada Maret 2003. Invasi tersebut didasari klaim intelijen AS bahwa Baghdad memiliki senjata pemusnah massal (WMD), klaim yang kemudian terbukti keliru karena tidak ada WMD yang ditemukan di negara itu.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore