
Ali Khamanei. (AFP)
Lahir pada 1939 di kota Mashhad, Khamenei tumbuh dalam keluarga religius yang kuat. Sejak usia muda, ia menempuh pendidikan keagamaan dan memperdalam kajian fikih serta tafsir Al-Qur’an.
Ketertarikannya pada dunia intelektual membuatnya dikenal sebagai pengajar yang aktif, terutama di kalangan mahasiswa dan kelompok muda religius yang saat itu mulai mempertanyakan legitimasi monarki.
Pada era pemerintahan Shah Iran, Mohammad Reza Pahlavi, Khamenei termasuk di antara para ulama yang lantang mengkritik kekuasaan. Aktivisme politiknya membuat ia beberapa kali berhadapan dengan aparat keamanan, termasuk penangkapan oleh SAVAK, polisi rahasia rezim.
Ia bahkan pernah diasingkan ke kota terpencil Iranshahr di tenggara Iran.
Tekanan tersebut tak menyurutkan langkahnya. Ketika gelombang protes besar meletus pada 1978, Khamenei kembali tampil di ruang publik dan terlibat aktif dalam gerakan yang akhirnya menjatuhkan monarki Pahlavi.
Revolusi Islam 1979 yang dipimpin Ayatollah Ruhollah Khomeini mengubah lanskap politik Iran secara drastis—dan membuka jalan bagi Khamenei untuk naik ke lingkaran inti kekuasaan.
Di tahun-tahun awal republik baru itu, Khamenei menempati berbagai posisi strategis sebelum akhirnya terpilih sebagai Presiden Iran pada 1981. Masa jabatannya berlangsung dalam situasi yang amat sulit, ketika Iran terlibat perang panjang dan berdarah dengan Irak yang dipimpin Saddam Hussein.
Perang delapan tahun tersebut bukan hanya menguras sumber daya, tetapi juga membentuk pandangan politik Khamenei. Dukungan sejumlah negara Barat terhadap Irak memperkuat kecurigaannya terhadap Amerika Serikat dan sekutunya. Sentimen itu kelak menjadi salah satu fondasi kebijakan luar negeri Iran di bawah kepemimpinannya.
Setelah wafatnya Khomeini pada 1989, Khamenei diangkat sebagai Pemimpin Tertinggi Iran. Jabatan itu menempatkannya di atas presiden dan lembaga-lembaga negara lainnya, dengan kewenangan luas atas militer, sistem peradilan, media, dan kebijakan strategis nasional. Sejak saat itu, ia menjadi pusat gravitasi politik Iran.
Dalam tiga dekade kepemimpinannya, Khamenei memperkuat struktur militer dan paramiliter sebagai benteng pertahanan negara. Ia juga mendorong perluasan pengaruh Iran di kawasan Timur Tengah, sembari mempertahankan narasi perlawanan terhadap tekanan Barat.
Bagi para pendukungnya, ia adalah penjaga revolusi dan simbol kedaulatan nasional. Namun bagi para pengkritiknya, Khamenei identik dengan pembatasan kebebasan sipil dan kontrol ketat terhadap oposisi.
Sejumlah gelombang protes dalam negeri selama masa pemerintahannya menjadi ujian bagi stabilitas politik Iran dan memperlihatkan polarisasi yang terus berkembang di tengah masyarakat.
Terlepas dari pro dan kontra yang mengiringinya, Ayatollah Ali Khamenei meninggalkan jejak mendalam dalam sejarah Iran modern. Dari seorang ulama muda yang ditangkap dan diasingkan, ia menjelma menjadi pemimpin tertinggi dengan pengaruh yang melampaui batas negara.
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
