Perkerja saat menyelesaikan perbaikan Jalan Mohammad Toha, Parung Panjang, Minggu (12/10/2025). (Hanung Hambara/ Jawa Pos)
JawaPos.com - Gerakan Masyarakat Parung Panjang untuk Perubahan (Gampar) buka suara terkait cuitan Ahmad Gozali, Sekretaris Jenderal Asosiasi Transporter Tangerang-Bogor (ATTB). Cuitan tersebut terkait dengan keinginan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, untuk memberikan tunjangan atau pekerjaan bagi masyarakat yang terdampak penertiban tambang di Parung Panjang, Bogor, Jawa Barat.
Seperti dilihat pada akun Instagram Gampar, @gamparofficial1, mereka menyatakan bahwa terdapat pernyataan-pernyataan Gozali yang menggelikan pada saat live TikTok. Salah satunya dengan nada yang diduga merendahkan profesi tukang sapu yang menjadi salah satu opsi pekerjaan dari Dedi Mulyadi.
“Anda berstatement bahwa yakin masyarakat akan menolak dengan pekerjaan yang diberikan gubernur, salah satu nya jadi tukang sapu, dengan kata ‘Mending aing jadi tukang ganjur dairpada jadi tukang sapu’,” tulis Gampar pada Minggu (26/10).
Gampar menegaskan bahwa profesi tersebut tak bisa direndahkan. Terlebih, gaji seorang tukang sapu sudah cukup tinggi di kota-kota besar.
“Gubernur saja berani keluarkan anggaran Rp2-3 juta jika masyarakat ambil kompensasi, apalagi masyarakat yang ambil pekerjaan, syukur-syukur kalau betah yang bisa dilanjut di kerjaan tersebut,” ungkapnya.
Mereka pun turut menyoroti ungkapan Gozali yang menyatakan bahwa pekerjaan tukang sapu tak sefleksibel tukang ganjur. Padahal, jam kerja profesi tukang sapu tak selamanya diisi dengan menyapu.
“Hay mang, anda pikir tukang sapu contoh kerja 8 jam, apakah itu berdiri terus dan nyapu terus?? Cangkeul atuh mangg.. Namanya tukang bersih-bersih mah, kalau sudah bersih ya istirahat dulu. Apakah anda mempunyai pikiran sampai sana?,” jelasnya.
Tak cukup sampai di situ, Gampar juga menyoroti keyakinan Gozali bahwa masyarakat Parung Panjang akan menolak akibat jarak yang jauh. Mereka pun mengungkapkan bahwa Gozali termasuk manusia yang memilih susah di kampung sendiri, daripada bahagia di kampung orang.
“Anda akan diketawain sama orang-orang di perantauan, banyak orang yang merantau di kota besar, tapi belum tentu dapat pekerjaan,” tukas dia.
“Sesuai dengan statement Gubernur, bahwa kompensasi itu hanya sementara sembari menunggu hasil tim independen Gubernur,” tutupnya.
Sebagai informasi, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, telah mengumumkan rencana untuk memberikan bantuan dan menciptakan lapangan kerja baru bagi warga yang terdampak penutupan tambang di Cigudeg, Rumpin, dan sekitarnya, Kabupaten Bogor. Dirinya mengaku sadar akan kemarahan masyarakat akibat kehilangan pekerjaan yang disebabkan oleh kebijakan tersebut.
Dua langkah besar turut dipersiapkan untuk mengatasi hal ini, yakni bantuan Rp 2 juta hingga 3 juta per bulan bagi warga yang terdampak. Nantinya bantuan ini akan disalurkan kepada kepala keluarga atau karyawan yang kehilangan pekerjaan.
Selain itu terdapat pula lapangan kerja baru di sektor tenaga kebersihan, sopir, operator alat berat, hingga petugas pemadam kebakaran yang sebelumnya akan dibekali pelatihan.
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
