Logo JawaPos
Author avatar - Image
14 November 2025, 02.05 WIB

Bantah Ada Bullying di Sekolah, Pramono Sebut Pelaku Ledakan SMAN 72 Jakarta Diduga Terinspirasi dari Konten Media Sosial

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung (kanan) bersama Kepala Bapenda DKI Jakarta Lusiana Herawati (Kiri) di Balai Kota Jakarta. (Istimewa) - Image

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung (kanan) bersama Kepala Bapenda DKI Jakarta Lusiana Herawati (Kiri) di Balai Kota Jakarta. (Istimewa)

JawaPos.com - Setelah sepekan ledakan di SMAN 72 Jakarta, Gubernur DKI Pramono Anung akhirnya buka suara terkait kejadian tersebut. Pram membantah kejadian itu disebabkan adanya diskriminasi atau bullying di sekolah tersebut.

“Jadi, persoalan di (SMAN) 72 kan banyak orang berspekulasi. Ini tidak ada hubungan sama sekali dengan diskriminasi. Tidak ada sama sekali dengan intoleransi. Karena yang melakukan itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan itu,” terang Pramono.

Hal itu disampaikan Pramono setelah mendapatkan banyak informasi. Utamanya, dari anak-anak SMAN 72 Jakarta. “Mereka (Peserta didik, Red) membantah, tidak benar adanya bullying,” kata Pramono.

Politisi PDI Perjuangan itu juga turut membenarkan hal itu setelah melihat video CCTV dari lokasi sekitar kejadian. Dia melihat video bahwa pelaku memasang tujuh bahan peledak dengan persiapan yang mumpuni.

“Saya yakin pasti itu terinspirasi, terpengaruh apa yang dia tonton,” jelasnya.

Dia meyakini hal itu juga setelah melihat langsung kondisi pelaku pasca kejadian ledakan. Ditambah lagi latar belakang keluarga pelaku yang memang kurang harmonis.

“Setelah kejadian, saya sempat lihat walaupun tidak sadar pelakunya. Tapi pelakunya ini, ya keluarganya antara bapak ibunya terpisah. Selama ini dia hidup dengan ayahnya. Ayahnya pun kan chef, sibuk. Tapi kalau melihat dari tujuh bom yang dipersiapkan dan kemudian cara dia membawa, kemudian pakaian kayak rambo (perang, Red) dan sebagainya, ya mungkin ini pengaruh dari Youtube atau media sosial,” jelasnya.

Dengan minimnya pengawasan orang tua dan tingginya pengaruh media sosial itu, Pramono mengaku sudah memerintah Kepala Dinas Pendidikan DKI Nahdiana untuk antisipasi. Dengan begitu, apa yang ditonton peserta didik ke depannya tidak dengan mudah menjadi bahan aspirasi.

“Nah yang seperti itulah yang kemudian saya sudah meminta kepada kepala Dinas Pendidikan untuk dilakukan pendidikan dan pencegahan. Karena yang seperti itu dampaknya sangat tidak baik,” tambahnya.

Saat ditanyakan kelanjutan masa depan pelaku yang sudah ditetapkan jadi Anak Berhadapan dengan Hukum (ABH), Pramono tidak menjawab secara lugas. Dia hanya memerintahkan Disdik DKI untuk antisipasi. Sementara pelaku saat ini sedang duduk di kelas XII, yang artinya akan segera lulus.

“Untuk hal-hal yang berkaitan dengan apa yang dipelajari oleh tadi, anak yang kemudian tersangkut persoalan hukum itu dilakukan pencegahan. Karena dia kan terinspirasi dari itu,” kata Pram.

Editor: Bintang Pradewo
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore