
Tradisi Ngubek Empang di Kota Depok. (Febry Ferdian/Jawa Pos)
JawaPos.com—Tradisi ngubek empang yang selama ini lekat dengan suasana menjelang Idul Fitri di masyarakat Betawi Depok kini didorong naik kelas. Bukan sekadar ritual menangkap ikan di empang, tradisi ratusan tahun itu mulai diarahkan menjadi cabang olahraga tradisional agar tidak punah tergerus zaman.
Ketua Kumpulan Orang-Orang Depok (KOOD) Ahmad Dahlan menegaskan, ngubek empang bukan tradisi baru. Praktik ini telah hidup sejak masa kolonial Belanda, ketika empang-empang besar tidak bisa dikeringkan dan masyarakat harus mengubak air untuk menangkap ikan sebagai persiapan kebutuhan Lebaran.
“Biasanya kan memang menjelang Hari Raya Idul Fitri itu masyarakat Betawi-Depok untuk mempersiapkan Hari Raya, kebutuhan lauk, ikan air tawar itu ngubak empang. Kenapa ngubak empang? Karena banyak dulu empang yang tidak bisa dikeringin, nggak bisa dibedah, airnya diubap untuk cara menangkatnya,” ujar Ahmad Dahlan.
Dia menyebut, dokumentasi sejarah menunjukkan aktivitas ini sudah dilakukan sejak ratusan tahun lalu. Bahkan, di situ rawa besar di Depok, tradisi ngubek empang tercatat telah berlangsung sejak era kolonial.
“Mungkin sudah ratusan tahun ya, dari jaman Belanda ini sudah ada. Kita ada dokumentasi bahwa pernah ngubak di satu rawa besar itu, zaman Belanda itu udah ngubak,” jelas Ahmad Dahlan.
Namun, Ahmad Dahlan mengingatkan, keberadaan empang kini semakin berkurang, begitu pula tradisi yang menyertainya. Karena itu, KOOD mendorong ngubek empang dijadikan agenda rutin dalam Lebaran Depok sekaligus diusulkan sebagai warisan budaya tak benda.
“Kita jadikan Lebaran Depok menjadi agenda rutin. Kedua, jangan sampai ini hilang tradisi ini,” tegas Ahmad Dahlan.
Tak berhenti sebagai agenda budaya, KOOD bersama Persatuan Olahraga Tradisional Indonesia (Portina) Kota Depok melihat potensi lain ngubek empang sebagai olahraga tradisional. Untuk tahap awal, konsep tersebut diuji coba melalui lomba dengan format lebih terukur.
“Hari ini kita launching ngubak empang dengan kolam yang lebih kecil, empangnya lebih kecil, pesertanya pun dibatasi hanya empat orang satu tim dan jumlah ikan dibatasi,” kata Ahmad Dahlan.
Dalam format olahraga, peserta dituntut mengandalkan ketangkasan murni. Tidak ada alat bantu, hanya tangan kosong, dengan durasi waktu 10 menit. Pemenang ditentukan dari jumlah ikan yang berhasil ditangkap, bukan beratnya.
“Ini kita lihat ketangkasan bagaimana peserta lomba ini menangkap ikan tanpa alat bantu, gak boleh pakai alat bantu, menggunakan tangan. Ini ada durasinya 10 menit dan pemenangnya adalah yang paling banyak dapat ikan. Bukan berat tapi jumlah yang paling banyak dapat ikan,” jelas Ahmad Dahlan.
Uji coba ini menggunakan ikan mujair atau nila yang dinilai lebih aman dan menantang.
“Ini uji coba pertama kita menggunakan ikan nila atau ikan mujair karena yang relatif aman dan agak susah ditangkapnya ikan mujair. Kalau lele, ini kita lihat karena ada patil ya, jadi takut berbahaya,” ungkap Ahmad Dahlan.
Dia juga merinci standar awal arena yang disiapkan, mulai dari ukuran kolam hingga kedalaman air, sebagai bagian dari syarat menuju olahraga resmi.
“Ini kan panjangnya 6 meter, luasnya 3 meter, lebarnya 3 meter, dengan ada tiga anak tangga dan kedalaman air 80 cm,” papar Ahmad Dahlan.
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
