Logo JawaPos
Author avatar - Image
26 November 2025, 21.01 WIB

Kasus Pembunuhan Alvaro, Pakar Psikologi Forensik Sebut Cinderella Effect

Ilustrasi mayat di kamar hotel (JawaPos.com) - Image

Ilustrasi mayat di kamar hotel (JawaPos.com)

JawaPos.com–Kasus penculikan dan pembunuhan Alvaro sudah terkuak. Di samping kasus Alvaro, juga ada kasus anak dibakar di Bandung. Sebagian orang melihat ada kesamaan pada keduanya, yakni pelakunya adalah orang tua tiri.

”Sedih sekali membayangkannya. Sekaligus waswas, bagaimana jika situasi serupa terjadi pada darah daging kita sendiri. Na'udzubillaahi min dzalik,” ucap pakar psikologi forensik Reza Indragiri Amriel.

Tentu, banyak orang tua tiri yang menyayangi anak tirinya dengan sepenuh hati. Pada sisi lain, menurut Reza, riset menemukan bahwa anak yang dibesarkan dalam keluarga tiri ternyata punya risiko lebih tinggi untuk mengalami kekerasan.

”Itu terjelaskan oleh Cinderella Effect. Yakni, secara evolusi, makhluk hidup secara umum hanya mau mengasuh keturunan yang punya kesamaan genetik dengannya. Sebab itulah, apalagi ketika ada cekcok besar, impuls agresif menjadi lebih gampang meledak,” papar Reza.

Dia mengungkapkan, status tiri pasti bukan faktor tunggal. Ada faktor majemuk di balik risiko tinggi itu. Namun temuan studi ini, lanjut Reza, setidaknya mengingatkan bahwa ada kompleksitas yang perlu disikapi secara bijak dan partisipatif ketika suami atau istri berniat menikah kembali dengan seseorang yang akan menjadi orang tua tiri bagi anak bawaan.

Persoalan lain, kata Reza, tentang bunuh diri di ruang tahanan. Ayah tiri Alvaro dikabarkan bunuh diri di ruang tahanan polisi.

”Saban kali kita bicara tentang prison culture, yang kita bayangkan adalah kekerasan antar napi. Jarang sekali kita memperluas imajinasi ke bunuh diri apalagi sebatas menyakiti diri sendiri. Padahal, setara seriusnya,” tandas Reza.

Contoh konkret, menurut Reza adalah terpidana seumur hidup kasus Cirebon.

”Saat saya bertandang ke lapas Cirebon, yang bersangkutan bercerita ke saya bagaimana dia menyayat-nyayat pergelangan tangan. Berlanjut, memakai benda tajam menggores-gores keningnya sendiri. Lalu, dia sendiri juga yang mencari obat merah. Berkali-kali seperti itu,” terang Reza.

Dia menambahkan, ada pula yang berpikir untuk membunuh sesama napi agar terbenarkan keberadaan seumur hidupnya di penjara akibat tuduhan telah melakukan pembunuhan.

Seberapa serius kasus bunuh diri di ruang tahanan? Reza menjelaskan, di Inggris misalnya, nilai ekonomis per insiden bunuh diri di ruang tahanan adalah sekitar 1,7 juta poundsterling. Termasuk biaya yang harus polisi bayar sebesar ribuan poundsterling ke pihak keluarga si pelaku bunuh diri.

”Kenyataan sedemikian rupa memang semestinya direspons secara lebih serius, ya. CCTV ditambah, standar perlengkapan tahanan dibatasi ketat, akses ke keluarga dan advokat dibuka memadai, kondisi fisik dan mental tahanan juga dipantau rutin. Termasuk konseling, kalau perlu, bagi tahanan yang dinilai berisiko,” tutur Reza.

”Tapi memang sulit untuk berharap itu bisa terealisasi. Pasalnya, tahanan atau napi kerap dianggap sampah, manusia buangan. Perlakuan terhadap makhluk serendah itu pastinya akan buruk,” imbuh dia.

Walau begitu, dia menambahkan, tewasnya tahanan polisi harus diinvestigasi secara menyeluruh. Polisi yang lalai, apalagi jika mengondisikan, perlu dikenakan sanksi. Lembaga pun tak boleh berlepas tangan.

”Nah, itu bisa menjadi satu masukan bagi Komisi Percepatan Reformasi Polri,” ucap Reza.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore