Logo JawaPos
Author avatar - Image
16 Oktober 2025, 03.26 WIB

5 Tanda Kalau Kamu Seorang People Pleaser dan Cara Mengubahnya!

Ilustrasi Hubungan yang Sehat. (Freepik) - Image

Ilustrasi Hubungan yang Sehat. (Freepik)

JawaPos.com – Menjadi pribadi yang baik dan peduli memang sesuatu yang mulia. Namun, terkadang niat baik itu bisa berubah menjadi beban terselubung. Sejak kecil, kita sering diajarkan untuk selalu sopan, membantu, dan mendahulukan kepentingan orang lain. Tanpa sadar, kebiasaan ini bisa membuat kita mengabaikan kebutuhan dan perasaan sendiri demi menjaga hubungan dengan orang lain.

Kondisi seperti inilah yang dikenal dengan istilah people pleaser, kecenderungan untuk terus berusaha menyenangkan orang lain, bahkan jika itu berarti mengorbankan kenyamanan diri sendiri. Menurut Psychology Today, perilaku ini biasanya berakar dari kebutuhan akan penerimaan dan rasa aman. Banyak people pleaser tumbuh di lingkungan yang membuat mereka percaya bahwa kasih sayang bersifat bersyarat; bahwa mereka hanya layak dicintai jika selalu menyenangkan orang lain.

Sementara itu, BetterUp menyoroti bahwa kebiasaan ini dapat menguras energi emosional dan membuat seseorang kehilangan arah hidupnya. Hidup yang seharusnya dijalani sesuai keinginan pribadi malah berubah menjadi upaya terus-menerus untuk menjaga agar semua orang di sekitar tetap bahagia.

Jika kamu sering merasa lelah, sulit menolak permintaan, atau takut mengecewakan orang lain, mungkin sudah waktunya berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri, "apakah aku melakukan ini karena tulus, atau karena takut ditolak?"

Untuk menjawabnya, berikut lima tanda utama bahwa kamu mungkin seorang people pleaser, beserta cara perlahan mengubah kebiasaan tersebut agar hubunganmu, baik dengan orang lain maupun dengan diri sendiri, menjadi lebih sehat.

1. Kamu Sulit Mengatakan “Tidak”

Kata “tidak” terasa seperti sesuatu yang salah untuk diucapkan. Kamu mungkin sering berkata “iya” meski sebenarnya tidak punya waktu, tenaga, atau keinginan. Ketakutan menolak bisa muncul dari kecemasan akan konflik atau kekhawatiran dianggap egois.

Menurut Psychology Today, hal ini sering kali berasal dari pola masa kecil di mana penolakan dianggap sebagai ancaman terhadap cinta atau penerimaan. Karena itu, sebagai orang dewasa, people pleaser cenderung menghindari segala bentuk penolakan, bahkan ketika itu diperlukan.

Cara mengubahnya: Latih diri untuk memberi jeda sebelum menjawab. Kamu bisa mengatakan, “Aku pikirkan dulu ya,” atau “Aku lihat dulu jadwalku.” Kalimat sederhana ini memberi ruang untuk menimbang keputusan secara sadar. Semakin sering kamu berlatih, semakin mudah menolak tanpa rasa bersalah.

2. Kamu Sering Merasa Bersalah saat Memprioritaskan Diri Sendiri

Saat akhirnya kamu mengambil waktu untuk diri sendiri misalnya untuk istirahat, menolak ajakan, atau sekadar menunda tugas orang lain, rasa bersalah langsung muncul. Seolah kamu sedang mengecewakan dunia.

Padahal, menurut BetterUp, memprioritaskan diri sendiri bukan bentuk egoisme, melainkan bagian dari kesehatan emosional. Jika kamu terus-menerus mengabaikan kebutuhan sendiri, lambat laun kamu akan kehilangan energi untuk benar-benar hadir bagi orang lain.

Cara mengubahnya: Ubah pola pikir dari “aku egois” menjadi “aku sedang menjaga diriku agar tetap mampu memberi.” Dengan istirahat dan batas yang jelas, kebaikanmu justru jadi lebih tulus dan berkelanjutan.

3. Kamu Terobsesi dengan Persetujuan Orang Lain

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore