Logo JawaPos
Author avatar - Image
22 Oktober 2025, 05.17 WIB

Orang yang Memiliki Hubungan Kurang Baik dengan Saudara Kandungnya Biasanya Menunjukkan 7 Ciri Khas Ini Menurut Psikologi

seseorang yang tidak memiliki hubungan yang baik dengan saudara kandungnya./Freepik/EyeEm - Image

seseorang yang tidak memiliki hubungan yang baik dengan saudara kandungnya./Freepik/EyeEm

JawaPos.com - Dalam kehidupan keluarga, hubungan antar saudara kandung sering menjadi cermin dari dinamika emosi dan komunikasi yang tumbuh sejak masa kecil.

Ada yang hidup rukun, saling mendukung layaknya sahabat sejati.

Namun, tak sedikit pula yang justru tumbuh dengan jarak emosional, bahkan konflik yang seolah tak berkesudahan.

Menurut psikologi keluarga, hubungan yang kurang harmonis antar saudara tidak muncul begitu saja, melainkan terbentuk dari pola interaksi yang berulang, perasaan tak terselesaikan, dan karakter individu yang berkembang di bawah pengaruh pengalaman masa lalu.

Menariknya, orang yang memiliki hubungan kurang baik dengan saudaranya ternyata sering menunjukkan sejumlah tanda yang cukup khas.

Dilansir dari Geediting pada Minggu (19/10), terdapat tujuh ciri yang paling sering tampak, menurut kajian psikologi hubungan interpersonal.

1. Cenderung Membandingkan Diri dengan Saudara Sendiri

Persaingan saudara adalah hal yang alami, tetapi bagi mereka yang hubungan keluarganya renggang, perbandingan ini sering menjadi sumber luka.

Mereka mungkin tumbuh dengan keyakinan bahwa cinta orang tua harus “diperjuangkan” dengan menjadi yang lebih unggul — lebih pintar, lebih sukses, atau lebih disukai.

Akibatnya, setiap keberhasilan saudara bisa memicu rasa iri, bukan kebanggaan.

Dalam jangka panjang, pola ini membuat hubungan sulit hangat, karena di balik interaksi yang tampak biasa, tersimpan kompetisi tak kasat mata.

2. Sulit Menunjukkan Kerentanan Emosional

Individu yang hubungannya kurang baik dengan saudara kandung sering kesulitan untuk terbuka atau menunjukkan sisi lembutnya.

Mereka cenderung menjaga jarak emosional, takut disalahpahami atau diremehkan seperti yang mungkin pernah mereka rasakan di masa kecil.

Dalam pandangan psikologi, ini adalah bentuk mekanisme pertahanan diri: mereka menutup diri bukan karena tidak peduli, melainkan karena ingin menghindari luka lama terulang kembali.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore