Logo JawaPos
Author avatar - Image
24 Oktober 2025, 19.37 WIB

Silent Treatment Bisa Jadi Racun dalam Hubungan, Ini 6 Cara Hadapi Tanpa Kehilangan Kendali​

Ilustrasi silent treatment dalam hubungan (Freepik) - Image

Ilustrasi silent treatment dalam hubungan (Freepik)

JawaPos.com - Ada kalanya kita merasa dicuekkan oleh orang yang kita sayangi seperti telepon tak dijawab, pesan tak dibalas, dan kehadiran kita seolah tak lagi penting. Fenomena yang dikenal sebagai silent treatment ini lebih dari sekadar diam, menurut artikel di Klik Dokter, ini bisa menjadi bentuk manipulasi emosional yang membuat hubungan terasa jauh dan dingin.

Sementara itu, portal Alodokter mengingatkan bahwa dampak jangka panjang dari pola diam ini dapat memicu rasa rendah diri, isolasi, bahkan stres kronis jika tidak ditangani. Melalui artikel ini, akan dibagikan 6 langkah praktis untuk menghadapi situasi ketika diam menjadi alat pengabaian dalam hubungan, dan membaliknya menjadi ruang komunikasi yang sehat.

Berikut 6 cara hadapi silent treatment dalam hubungan:

1. Kenali Tanda-Tanda Silent Treatment

Saat seseorang diam bukan karena memilih waktu untuk tenang, tetapi secara sengaja mengabaikan komunikasi, itu bisa menjadi silent treatment.

Ciri-umumnya termasuk menolak berbicara tanpa alasan yang jelas, menghindar saat Anda ingin berdiskusi, atau memberi respons minimal seperti “oke” atau “yah” tanpa penjelasan. Dengan menyadari bahwa ini sedang terjadi, Anda membuka langkah berikutnya untuk mengambil sikap, bukan hanya terseret dalam kebingungan.

2. Kendalikan Emosi dan Hindari Balasan Diam

Merespons diam dengan diam mungkin terasa adil, namun sering kali hanya memperpanjang jarak dan menciptakan konflik yang tak kunjung selesai. Silent treatment bisa menjadi alat kontrol di mana satu pihak merasa berkuasa karena pihak lain merasa tak bisa berbuat apa-apa.

Sebaliknya, cobalah menjaga ketenangan, tarik napas, dan siapkan diri untuk berdialog, bukan untuk berdebat. Ketika Anda tetap tenang, Anda memberi sinyal bahwa Anda menghargai perasaan diri sendiri, bukan terjebak permainan pengabaian.

3. Ajak Bicara dengan Bahasa “Saya Merasa”

Melakukan komunikasi secara terbuka menjadi kunci. Anda bisa mulai dengan ungkapan ringan seperti, “Saya merasa agak terluka ketika pesan saya tak dibalas, bisakah kita ngobrol soal ini?”. Pilih kalimat yang memfokuskan pada perasaan Anda, bukan tuduhan kepada pihak lain.

Cara ini membuka kemungkinan dialog tanpa memancing pertahanan instan. Dengan menetapkan titik pembicaraan (“kenapa kita malah diam berhari-hari?”) lebih produktif daripada terus menunggu perubahan tanpa berbicara. Tujuannya agar komunikasi bukan menjadi “siapa yang benar/siapa yang salah”, melainkan “apa yang terjadi dan bagaimana kita bisa selesaikan bersama”.

4. Tentukan Batas Waktu dan Ruang Bila Dibutuhkan

Ada kalanya diam muncul karena seseorang butuh waktu untuk berpikir atau menenangkan diri. Namun jika diam berlangsung terus tanpa kejelasan kapan akan berbicara, maka ini dapat membuat pihak lain merasa terkucil.

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore