Logo JawaPos
Author avatar - Image
24 Oktober 2025, 02.22 WIB

Silent Treatment dalam Hubungan: Saat Diam Jadi Senjata yang Tak Terlihat

Ilustrasi Silent Treatment dalam Hubungan. (Freepik)

JawaPos.com – Pernahkah kamu berada di situasi di mana seseorang tiba-tiba berhenti berbicara, tidak menanggapi pesan, atau bersikap seolah kamu tidak ada? Tidak ada teriakan, tidak ada pertengkaran besar hanya ada keheningan yang menusuk.

Bagi banyak pasangan, fase “diam seribu bahasa” ini sering dianggap sepele, bahkan sebagai cara untuk menenangkan diri. Padahal, jika dilakukan berulang dan disengaja, perilaku ini bisa menjadi bentuk kekerasan emosional yang merusak hubungan secara perlahan.

Fenomena ini dikenal dengan istilah silent treatment, sebuah pola komunikasi pasif-agresif yang kerap muncul saat konflik terjadi. Menurut Medical News Today, silent treatment terjadi ketika seseorang sengaja menolak berbicara atau berinteraksi dengan pasangannya sebagai bentuk hukuman atau upaya mengendalikan situasi.

Dalam hubungan yang sehat, mengambil jarak sejenak untuk menenangkan diri setelah bertengkar adalah hal yang wajar. Namun, seperti dijelaskan oleh Cleveland Clinic, silent treatment berbeda karena bukan lagi tentang menenangkan diri, melainkan membuat pihak lain merasa bersalah atau tidak berdaya. Pola ini menciptakan ketidakseimbangan emosional, satu pihak memegang kendali lewat diamnya, sementara pihak lain dibiarkan menebak-nebak kesalahannya.

Dalam jangka pendek, silent treatment dapat menciptakan jarak emosional yang signifikan. Namun, jika dilakukan berulang, efeknya dapat jauh lebih dalam dan merusak. Menurut Verywell Mind, perilaku ini dapat menimbulkan perasaan terisolasi, tidak dihargai, dan terabaikan, terutama pada pasangan yang menerima perlakuan tersebut.

Penelitian menunjukkan bahwa diam yang disengaja ini bisa memicu stres emosional, kecemasan, hingga penurunan kepercayaan diri. Bagi sebagian orang, silent treatment bahkan meninggalkan bekas luka psikologis yang mirip dengan bentuk emotional abuse.

Psychology Today menyebutnya sebagai “bentuk penghukuman halus yang destruktif”, karena penerima sering kali tidak memahami apa kesalahannya, namun tetap merasa bersalah dan cemas kehilangan hubungan tersebut.

Selain merusak koneksi emosional, kebiasaan ini juga menghambat kemampuan pasangan untuk menyelesaikan konflik secara dewasa dan terbuka. Alih-alih memperbaiki masalah, silent treatment justru memperpanjang kesalahpahaman dan menciptakan siklus hubungan yang tidak sehat.

Mengapa Orang Melakukan Silent Treatment?

Ada berbagai alasan mengapa seseorang memilih untuk diam alih-alih berbicara. Dalam banyak kasus, keheningan tersebut menjadi cara seseorang menghindari situasi yang terasa terlalu berat untuk dihadapi.

Menurut Cleveland Clinic dan Verywell Mind, sebagian orang memilih diam karena takut konfrontasi langsung, khawatir bahwa pembicaraan akan berubah menjadi pertengkaran yang lebih besar. Diam terasa lebih aman dibandingkan risiko menumpahkan emosi yang sulit dikendalikan.

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore