
Bedanya Fearful Avoidant dan Dismissive Avoidant Attachment: Kenali Polanya di Hubunganmu dan Cara Menyembuhkannya (Freepik/tirachardz)
JawaPos.com - Pernahkah kamu merasa ingin dekat dengan seseorang tapi di sisi lain justru takut disakiti atau ditolak? Atau mungkin kamu lebih nyaman menjaga jarak, sulit terbuka, dan memilih untuk tidak terlalu melibatkan perasaan? Kalau iya, bisa jadi kamu memiliki salah satu gaya kelekatan (attachment style) yang dikenal sebagai avoidant attachment.
Menurut penjelasan dari salah satu video di kanal psikologi Psych2Go, dalam psikologi, attachment adalah ikatan emosional yang kita bentuk dengan orang lain, yang berakar dari hubungan awal kita dengan pengasuh atau orang tua.
Dua gaya kelekatan yang sering disalahpahami adalah fearful avoidant dan dismissive avoidant attachment style. Keduanya memang sama-sama berakar dari rasa tidak percaya terhadap orang lain, tetapi keduanya memiliki asal-usul dan pola perilaku yang berbeda.
Memahami perbedaan ini penting agar kita tidak salah menilai, karena banyak orang dengan attachment style tersebut sebenarnya sedang berjuang menyembuhkan luka masa lalu yang belum tuntas.
Apa Itu Dismissive dan Fearful Avoidant Attachment?
Keduanya berasal dari pola hubungan masa kecil yang tidak aman, tetapi penyebab dan dampaknya berbeda.
Dismissive avoidant attachment terbentuk karena pengalaman penolakan atau pengabaian emosional di masa kecil. Anak-anak yang tumbuh dengan pengasuhan seperti ini biasanya belajar bahwa menunjukkan emosi tidak akan mendapat respons positif. Akibatnya, mereka tumbuh menjadi pribadi yang menekan emosi, lebih mengandalkan diri sendiri, dan menghindari kedekatan emosional.
Sementara itu, fearful avoidant attachment (juga disebut disorganized attachment) muncul dari lingkungan yang penuh trauma, kekerasan, atau ketakutan. Anak yang tumbuh dalam situasi seperti ini belajar bahwa orang yang seharusnya melindunginya justru bisa menjadi sumber ancaman. Akibatnya, mereka memiliki keinginan untuk dekat, tetapi pada saat yang sama takut akan kedekatan itu sendiri.
1. Masa Kecil yang Dipenuhi Ketakutan dan Trauma
Bagi seseorang dengan fearful avoidant attachment, masa kecilnya sering diwarnai oleh kekerasan, pelecehan, atau pengabaian. Tidak ada rasa aman yang konsisten dari orang tua atau pengasuhnya.
Akibatnya, mereka tumbuh dengan rasa takut dan ketidakstabilan emosional. Saat dewasa, mereka sering merasa dunia tidak aman dan sulit membangun hubungan yang sehat.
Mereka juga tidak pernah benar-benar belajar bagaimana menenangkan diri (self-soothing) atau memahami emosi sendiri. Parahnya lagi, tanpa sadar, mereka bisa mengulang pola hubungan yang sama seperti masa kecilnya, karena itu satu-satunya bentuk “cinta” yang mereka kenal.
Sedangkan orang dengan dismissive avoidant attachment biasanya tumbuh di lingkungan yang terlalu menuntut atau dingin secara emosional. Mereka belajar untuk mematikan perasaan, tidak menunjukkan kelemahan, dan menganggap kemandirian sebagai bentuk kekuatan.
2. Sulit Percaya pada Diri Sendiri dan Orang Lain
Salah satu ciri utama dari fearful avoidant attachment adalah kesulitan mempercayai siapa pun, termasuk diri sendiri. Mereka sering ragu apakah orang lain benar-benar peduli, dan di saat yang sama juga meragukan nilai diri mereka sendiri.
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
