Logo JawaPos
Author avatar - Image
18 Desember 2025, 13.16 WIB

Kamu Perlu Berpikir Sambil Bergerak? Anda Menggunakan Otak dengan 7 Cara Tingkat Lanjut Ini Menurut Psikologi

seseorang yang berpikir sambil bergerak./Freepik/Wavebreak Media - Image

seseorang yang berpikir sambil bergerak./Freepik/Wavebreak Media

Jawapos.com - Pernahkah Anda merasa sulit berpikir jernih saat duduk diam terlalu lama?

Sebaliknya, ide justru mengalir deras ketika Anda berjalan mondar-mandir, menggoyangkan kaki, atau bahkan membersihkan meja?

Banyak orang mengira kebiasaan bergerak sambil berpikir adalah tanda gelisah atau tidak fokus.

Padahal, menurut psikologi kognitif dan neurosains, hal itu justru bisa menjadi indikator cara kerja otak yang lebih kompleks dan adaptif.

Otak manusia tidak selalu bekerja optimal dalam kondisi statis. Bagi sebagian orang, gerakan fisik kecil justru menjadi “pemicu” yang membantu mengakses memori, kreativitas, dan pengambilan keputusan.

Dilansir dari Geediting pada Selasa (16/12), jika Anda termasuk tipe yang perlu bergerak untuk berpikir, besar kemungkinan Anda sedang mengaktifkan mekanisme otak tingkat lanjut berikut ini.

1. Anda Mengaktifkan Koneksi Otak–Tubuh (Embodied Cognition)

Psikologi modern mengenal konsep embodied cognition, yaitu gagasan bahwa pikiran tidak bekerja terpisah dari tubuh.

Saat Anda bergerak, otak tidak hanya memproses ide secara abstrak, tetapi juga mengintegrasikan sensasi fisik, posisi tubuh, dan ritme gerakan.

Berjalan sambil berpikir, misalnya, membantu otak “menyimulasikan” alur pemikiran secara lebih konkret.

Inilah sebabnya banyak filsuf, penulis, dan pemimpin besar dikenal gemar berjalan kaki saat merenung. Gerakan membantu pikiran terasa lebih hidup dan tidak terjebak di ruang mental yang sempit.

2. Anda Membantu Otak Mengatur Beban Kognitif

Berpikir mendalam membutuhkan kapasitas kerja otak (working memory) yang besar. Ketika Anda duduk diam dan memaksa fokus, beban kognitif bisa menumpuk dan membuat pikiran terasa buntu.

Gerakan kecil—seperti mengetuk meja, berjalan pelan, atau mengubah posisi duduk—membantu otak “mendistribusikan ulang” energi mental.

Ini seperti membuka katup tekanan agar pikiran tidak macet. Psikolog melihat ini sebagai strategi regulasi diri yang tidak disadari, tetapi efektif.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore