Logo JawaPos
Author avatar - Image
21 Desember 2025, 23.21 WIB

Jika Cucu Anda Tampak Tidak Nyaman di Dekat Anda, Mungkin Anda Melakukan 8 Hal Ini Tanpa Menyadarinya Menurut Psikologi

Ilustrasi seseorang yang tidak disukai cucunya (Dok. Freepik/Zinkevych)

JawaPos.com - Hubungan antara kakek-nenek dan cucu sering kali dibayangkan sebagai ikatan hangat penuh tawa, cerita masa lalu, dan kasih tanpa syarat. Namun dalam kenyataannya, tidak sedikit kakek atau nenek yang diam-diam merasa bingung: mengapa cucu saya terlihat canggung, menjauh, atau tidak betah berada dekat saya? Perasaan ini tentu menyakitkan, apalagi jika niat Anda sejatinya tulus. 

 
Dilansir dari Expert Editor pada Jumat (19/12), psikologi menjelaskan bahwa ketidaknyamanan anak, termasuk cucu tidak selalu disebabkan oleh kurangnya kasih sayang. Justru sering kali muncul dari pola perilaku kecil yang dilakukan orang dewasa tanpa disadari, berulang, dan dianggap "biasa."

Artikel ini tidak bertujuan menyalahkan, melainkan mengajak Anda bercermin dengan lembut. Bisa jadi, tanpa sadar, Anda melakukan beberapa hal berikut.
 
Baca Juga: Orang yang Bangun antara Pukul 3-5 Pagi Tanpa Alarm Biasanya Memiliki 7 Ciri Kepribadian Langka Ini, Kata Psikologi

1. Terlalu Sering Mengkritik dengan Dalih "Demi Kebaikan"


Menurut psikologi perkembangan, anak sangat peka terhadap nada evaluasi. Ketika cucu sering mendengar komentar seperti "Kok kamu lemah?", "Zaman sekarang anak manja", atau "Harusnya bisa lebih baik", otaknya menangkap pesan bahwa ia tidak cukup baik.

Walau maksud Anda mendidik, kritik yang terlalu sering, terutama tanpa diimbangi empati, membuat anak merasa tidak aman secara emosional. Akibatnya, ia menjaga jarak demi melindungi perasaannya.

2. Tidak Menghargai Batasan Fisik dan Emosional


Memeluk, mencubit pipi, atau memaksa anak duduk dekat sering dianggap wajar oleh generasi lama. Namun psikologi modern menekankan pentingnya personal boundaries, bahkan pada anak kecil.

Ketika cucu menolak digendong atau dipeluk tetapi tetap dipaksa, ia belajar bahwa perasaannya tidak penting. Rasa tidak nyaman pun muncul, dan lama-kelamaan ia akan menghindari situasi yang membuatnya merasa kehilangan kendali.

3. Membandingkan dengan Anak atau Cucu Lain


Ucapan seperti "Kakaknya lebih pintar" atau "Sepupumu lebih penurut" meninggalkan luka psikologis yang dalam. Otak anak memproses perbandingan sebagai ancaman terhadap harga diri.

Psikologi menyebut ini sebagai social comparison stress. Anak yang sering dibandingkan akan merasa kehadirannya selalu dinilai, bukan diterima. Tak heran jika ia memilih menjauh demi menghindari rasa gagal.

4. Terlalu Sering Menyela atau Tidak Mendengarkan Ceritanya


Saat cucu bercerita dan Anda memotong dengan nasihat, koreksi, atau cerita versi Anda sendiri, ia merasa suaranya tidak penting. Dalam jangka panjang, anak belajar bahwa berbicara dengan Anda tidak memberi rasa aman.

Psikologi komunikasi menyebut mendengarkan sebagai bentuk validasi emosi. Tanpa itu, hubungan terasa timpang, dan ketidaknyamanan pun tumbuh perlahan.

5. Menggunakan Rasa Takut sebagai Alat Kontrol


Kalimat seperti "Awas nanti kakek marah", "Jangan begitu, dosa", atau "Kalau nakal nanti…" mungkin terdengar sepele. Namun secara psikologis, ini menanamkan asosiasi negatif terhadap kehadiran Anda.

Anak akhirnya bersikap baik bukan karena merasa aman, tetapi karena takut. Hubungan yang dibangun di atas ketakutan hampir selalu menghasilkan jarak emosional.
Baca Juga: Lihat Kecenderungan Emosi dan Pola Kepribadian Anda dari Ilusi Optik Berikut: 2 Wajah, Kupu-Kupu, atau Lingkaran?

6. Mengabaikan Perubahan Zaman dan Dunia Anak

Sering meremehkan minat cucu seperti gim, musik, cara bicara, atau teknologi, membuatnya merasa tidak dipahami. Psikologi sosial menjelaskan bahwa anak mencari sense of belonging.

Ketika dunia batinnya terus dianggap "aneh" atau "tidak penting", ia belajar bahwa dirinya harus menyembunyikan jati diri di hadapan Anda. Rasa tidak nyaman pun tak terelakkan.

7. Terlalu Ingin Mengatur dan Mengendalikan


Niat membantu kadang berubah menjadi kontrol berlebihan: mengatur apa yang harus dimakan, dipakai, dimainkan, bahkan dipikirkan. Padahal, psikologi perkembangan menekankan pentingnya otonomi sejak dini.

Anak yang merasa hidupnya selalu diatur akan mengalami tekanan internal. Menjauh adalah salah satu cara paling aman untuk mendapatkan kembali rasa kendali.

8. Jarang Menunjukkan Kasih Sayang secara Emosional


Kasih sayang tidak hanya soal memenuhi kebutuhan fisik. Anak butuh pengakuan emosional: pujian tulus, tatapan hangat, dan kalimat sederhana seperti "Kakek bangga padamu."

Psikologi afeksi menunjukkan bahwa anak yang tidak merasakan kehangatan emosional akan bersikap dingin sebagai mekanisme bertahan. Bukan karena tidak sayang, melainkan karena tidak merasa cukup diterima.

Kesimpulan: Kedekatan Tidak Datang dari Niat Baik Saja, tetapi dari Kesadaran


Jika cucu Anda tampak tidak nyaman, itu bukan berarti Anda gagal sebagai kakek atau nenek. Justru sebaliknya, kesadaran untuk bertanya "Apa yang bisa saya perbaiki?" adalah tanda kedewasaan emosional.

Psikologi mengajarkan bahwa hubungan yang sehat dibangun dari empati, penghormatan, dan kemauan untuk belajar lintas generasi. Dengan sedikit refleksi dan perubahan kecil, jarak perlahan bisa mencair, dan kehangatan yang sempat redup dapat tumbuh kembali.

Karena pada akhirnya, yang paling diingat seorang anak bukan seberapa benar kita menasihatinya, tetapi seberapa aman ia merasa ketika berada di dekat kita.
 

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore