Logo JawaPos
Author avatar - Image
24 Desember 2025, 04.32 WIB

Psikologi Mengungkap Pola Asuh yang Diam-diam Membuat Anak Kehilangan Rasa Hormat Saat Dewasa

Kurang sabar adalah salah satu tanda orang tua dengan pola asuh otoriter (freepik) - Image

Kurang sabar adalah salah satu tanda orang tua dengan pola asuh otoriter (freepik)

JawaPos.com - Hubungan antara orang tua dan anak tidak berhenti ketika anak tumbuh dewasa. Justru, fase dewasa sering menjadi cermin dari bagaimana pola asuh dibangun sejak kecil.

Banyak orang tua merasa telah memberikan segalanya—nafkah, pendidikan, dan perhatian—namun tetap bertanya-tanya mengapa anak yang sudah dewasa terasa menjauh dan menjaga jarak secara emosional.

Psikologi menjelaskan bahwa rasa hormat anak kepada orang tua bukanlah sesuatu yang muncul otomatis seiring bertambahnya usia.

Rasa hormat dibentuk oleh kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan orang tua dari hari ke hari.

Sayangnya, ada sejumlah perilaku yang terlihat sepele, bahkan tidak disadari, tetapi perlahan justru mengikis kepercayaan dan rasa hormat anak hingga dewasa.

Dikutip dari laman Geediting, Selasa (23/12), berikut sembilan perilaku orang tua yang sebaiknya dihindari jika ingin tetap dihormati oleh anak ketika mereka tumbuh dewasa.

1. Meremehkan Perasaan Anak

Ketika anak mengungkapkan kesedihan, kekecewaan, atau kemarahan, respons seperti “itu bukan masalah besar” atau “kamu terlalu sensitif” bisa terasa praktis bagi orang tua. Namun, psikologi menunjukkan bahwa sikap ini membuat anak merasa emosinya tidak valid.

Anak yang tumbuh dengan perasaan tidak didengar cenderung menutup diri saat dewasa. Rasa hormat tumbuh ketika anak merasa dipahami, bukan dihakimi.

2. Tidak Pernah Mengakui Kesalahan

Orang tua yang menolak meminta maaf mengajarkan bahwa otoritas tidak perlu bertanggung jawab. Padahal, mengakui kesalahan justru menunjukkan kedewasaan emosional.

Permintaan maaf yang tulus mengajarkan anak bahwa menghormati orang lain dimulai dari kejujuran dan tanggung jawab atas tindakan sendiri.

3. Membandingkan Anak dengan Orang Lain

Kalimat seperti “coba kamu seperti kakakmu” atau “anak lain bisa, kenapa kamu tidak” sering dianggap sebagai motivasi. Faktanya, perbandingan merusak harga diri dan menumbuhkan rasa tidak cukup.

Anak yang terus dibandingkan akan membawa luka tersebut hingga dewasa dan menjaga jarak secara emosional dari orang tua.

4. Terlalu Fokus pada Prestasi

Mengapresiasi nilai, gelar, dan pencapaian memang penting, tetapi jika kasih sayang hanya muncul saat anak berprestasi, anak belajar bahwa cinta bersyarat.

Psikologi menyebutkan bahwa anak perlu dihargai atas usaha dan karakter, bukan hanya hasil. Tanpa itu, rasa hormat bisa berubah menjadi sekadar kepatuhan.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore