Logo JawaPos
Author avatar - Image
27 Desember 2025, 05.02 WIB

Orang yang Tumbuh Besar dengan Mendengar 10 Frasa Ini dari Orang Tua Mereka Biasanya Kesulitan Menetapkan Batasan Saat Dewasa Menurut Psikologi

seseorang yang sulit menetapkan batasan./Freepik/stockking - Image

seseorang yang sulit menetapkan batasan./Freepik/stockking

JawaPos.com - Masa kecil adalah fondasi emosional yang membentuk cara seseorang memandang diri sendiri dan dunia.

Kata-kata yang berulang kali kita dengar dari orang tua bukan sekadar kalimat lewat—ia menanamkan keyakinan, membentuk pola pikir, dan memengaruhi cara kita berelasi hingga dewasa.

Psikologi perkembangan menunjukkan bahwa pola komunikasi dalam keluarga sangat menentukan kemampuan seseorang dalam menetapkan batasan (boundaries) yang sehat.

Menariknya, banyak orang dewasa yang kesulitan berkata “tidak”, merasa bersalah saat memprioritaskan diri sendiri, atau terus-menerus mengorbankan kebutuhan pribadi, ternyata memiliki satu kesamaan: mereka tumbuh besar dengan mendengar frasa-frasa tertentu dari orang tua.

Dilansir dari Geediting pada Kamis (25/12), terdapat sepuluh frasa yang, jika sering diucapkan, dapat berdampak jangka panjang pada kemampuan seseorang dalam membangun batasan sehat di usia dewasa.

1. “Kamu harus nurut, jangan membantah orang tua”

Frasa ini sering dimaksudkan untuk menanamkan sopan santun, tetapi jika diulang tanpa ruang dialog, anak belajar bahwa pendapatnya tidak penting.

Psikologi menyebut ini sebagai authoritarian parenting, di mana ketaatan lebih dihargai daripada pemahaman.

Saat dewasa, individu dengan latar ini cenderung sulit menyuarakan kebutuhan sendiri. Mereka takut dianggap tidak sopan, egois, atau melawan, sehingga batasan pribadi pun menjadi kabur.

2. “Jangan egois, pikirkan orang lain”

Empati adalah nilai penting, namun ketika empati selalu ditanamkan dengan mengorbankan diri sendiri, anak belajar bahwa kebutuhan pribadinya adalah hal yang salah. Mereka tumbuh dengan keyakinan bahwa memprioritaskan diri berarti menyakiti orang lain.

Akibatnya, saat dewasa, mereka kerap merasa bersalah ketika menetapkan batasan, bahkan untuk hal-hal yang wajar seperti waktu istirahat atau penolakan sederhana.

3. “Kamu harus bikin orang tua bangga”

Kalimat ini secara halus menggeser pusat nilai diri anak ke luar dirinya. Harga diri tidak lagi berasal dari apa yang ia rasakan, tetapi dari seberapa puas orang lain terhadapnya.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore