Ilustrasi tanda seseorang yang dibesarkan orang tua egous dan dampaknya masih terasa (Geediting)
JawaPos.com - Tidak sedikit orang yang terbiasa meminta maaf berulang kali, bahkan untuk hal-hal yang sebenarnya bukan kesalahan mereka. Ada pula yang kesulitan mengambil keputusan sederhana karena terlalu memikirkan apakah pilihan itu akan mengecewakan orang lain.
Tanpa disadari, pola ini sering berakar dari pengalaman masa kecil—khususnya ketika tumbuh bersama orang tua yang cenderung menjadikan segala sesuatu berpusat pada diri mereka sendiri. Dalam banyak kasus, pola asuh seperti ini cukup umum dialami oleh anak-anak dari generasi Baby Boomer, meskipun tentu tidak berlaku untuk semua.
Dilansir dari laman Geediting, Selasa (06/01), berikut tujuh tanda umum seseorang dibesarkan oleh orang tua yang egois secara emosional, serta alasan mengapa mengenali pola ini penting untuk proses pemulihan diri.
Ucapan seperti “maaf mengganggu”, “maaf pertanyaannya bodoh”, atau “maaf merepotkan” sering terlontar begitu saja. Anak yang tumbuh dengan orang tua yang selalu memusatkan perhatian pada diri sendiri belajar sejak dini bahwa kebutuhan mereka dianggap sebagai beban.
Akibatnya, saat dewasa mereka membawa keyakinan keliru bahwa keberadaan mereka saja sudah menyusahkan orang lain, sehingga refleks meminta maaf menjadi kebiasaan.
Orang yang sejak kecil tidak dihargai batasannya akan tumbuh menjadi pribadi yang merasa bersalah saat mengatakan “tidak”. Mereka kerap mengorbankan waktu, tenaga, dan kesehatan mental demi menyenangkan orang lain.
Hal ini terjadi karena di masa kecil, menolak permintaan orang tua sering berujung pada rasa bersalah, diam berkepanjangan, atau ledakan emosi. Mengalah terasa lebih aman daripada mempertahankan diri.
Kalimat seperti “kamu terlalu sensitif”, “kamu berlebihan”, atau “itu tidak terjadi seperti yang kamu ingat” meninggalkan luka psikologis mendalam. Anak yang sering mengalami penyangkalan emosi akan tumbuh menjadi orang dewasa yang meragukan perasaannya sendiri.
Mereka cenderung mengecilkan rasa sakit, mengabaikan intuisi, dan kesulitan mengenali tanda bahaya dalam hubungan yang tidak sehat.
Banyak people pleaser sejatinya adalah anak-anak yang dulu belajar bertahan hidup dengan membaca kebutuhan orang tua sebelum diminta. Mereka terbiasa memastikan semua orang baik-baik saja, bahkan dengan mengorbankan diri sendiri.
Sayangnya, pola ini sering berlanjut hingga dewasa dan membuat mereka rentan dimanfaatkan, kelelahan emosional, serta kehilangan jati diri.
Orang tua yang egois kerap menjadikan keputusan anak sebagai cerminan keberhasilan mereka sendiri. Akibatnya, anak tumbuh dengan kebiasaan mempertimbangkan reaksi orang tua dalam setiap pilihan hidup.
Saat dewasa, mereka menjadi ragu, bimbang, dan takut salah langkah—bukan karena tidak mampu, melainkan karena terlalu lama hidup dalam bayang-bayang ekspektasi orang lain.
Sebagian orang tumbuh menjadi perfeksionis dan overachiever demi mengejar pengakuan yang tak kunjung didapat. Sebagian lainnya justru menyabotase kesuksesan sendiri karena merasa pencapaian mereka selalu “diambil alih” oleh orang tua.
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
