Logo JawaPos
Author avatar - Image
16 Januari 2026, 00.39 WIB

10 Kebiasaan Liburan yang Membedakan Orang-Orang yang Benar-Benar Berbudaya dari Mereka yang Hanya Sekadar Mencoret Daftar Keinginan

seseorang yang liburan dengan berbudaya./Freepik/jcomp - Image

seseorang yang liburan dengan berbudaya./Freepik/jcomp

JawaPos.com - Liburan sering dianggap sebagai pelarian dari rutinitas: tiket dibeli, hotel dipesan, foto diambil, lalu pulang dengan galeri penuh kenangan visual.

Namun, di balik pemandangan indah dan unggahan media sosial, ada perbedaan halus tetapi mendalam antara orang yang benar-benar berbudaya saat berlibur dan mereka yang hanya mengejar checklist destinasi.

Orang yang berbudaya tidak menjadikan perjalanan sebagai ajang pamer jarak tempuh, melainkan sebagai proses memahami manusia, nilai, dan kehidupan di tempat lain.

Mereka pulang tidak hanya membawa oleh-oleh, tetapi juga perspektif baru.

Dilansir dari Geediting pada Kamis (15/1), terdapat sepuluh kebiasaan liburan yang secara alami membedakan keduanya.

1. Mereka Belajar Sebelum Berangkat, Bukan Hanya Saat Tiba

Orang yang berbudaya meluangkan waktu untuk membaca sejarah, adat, dan konteks sosial destinasi yang akan dikunjungi. Mereka ingin tahu mengapa sebuah tempat menjadi seperti sekarang, bukan sekadar apa yang bisa difoto.

Sebaliknya, pemburu checklist sering tiba tanpa pengetahuan dasar, lalu kebingungan atau bahkan menghakimi kebiasaan lokal karena terasa “aneh” atau “tidak praktis”.

2. Mereka Menghormati Adat Lokal, Meski Tidak Selalu Nyaman

Berpakaian sopan di tempat ibadah, menyesuaikan nada suara, atau mengikuti aturan tak tertulis adalah refleksi kepekaan budaya. Orang berbudaya paham bahwa kenyamanan pribadi bukan pusat semesta.

Mereka yang hanya ingin mencoret destinasi sering berkata, “Kan saya turis.” Kalimat ini menjadi pembenaran untuk mengabaikan norma setempat.

3. Mereka Berinteraksi, Bukan Hanya Mengamati

Bagi orang berbudaya, penduduk lokal bukan latar belakang foto. Mereka menyapa, bertanya dengan tulus, dan mendengarkan cerita. Bahkan percakapan singkat di warung kecil bisa menjadi momen paling berkesan.

Sementara itu, pelancong checklist cenderung melihat warga lokal sebagai bagian dari “pengalaman”, bukan sebagai manusia dengan kehidupan nyata.

4. Mereka Makan untuk Memahami Budaya, Bukan Sekadar Tren

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore