Logo JawaPos
Author avatar - Image
22 Januari 2026, 22.25 WIB

Generasi Tua yang Merasa Terputus dari Anggota Keluarga yang Lebih Muda Biasanya Berselisih soal 7 Nilai Ini Tanpa Disadari Menurut Psikologi

seseorang yang merasa terputus dari keluarga yang lebih muda./Freepik/myasiavision - Image

seseorang yang merasa terputus dari keluarga yang lebih muda./Freepik/myasiavision

JawaPos.com - Di banyak keluarga, jarak antargenerasi tidak selalu muncul dalam bentuk pertengkaran besar.

Justru sering kali ia hadir secara halus: obrolan yang terasa hambar, nasihat yang tak lagi didengar, atau perasaan “kok sekarang beda ya?” yang dipendam dalam hati. Generasi tua merasa tidak dipahami, sementara generasi muda merasa tidak dipercaya.

Menurut psikologi keluarga dan psikologi perkembangan, kondisi ini jarang disebabkan oleh kurangnya kasih sayang.

Akar masalahnya sering kali terletak pada perbedaan nilai—nilai dasar yang terbentuk dari pengalaman hidup, konteks zaman, dan cara melihat dunia.

Menariknya, banyak orang tua atau anggota keluarga yang lebih senior tidak menyadari bahwa rasa terputus yang mereka alami bukan karena anak atau cucu “berubah jadi tidak sopan”, melainkan karena ada nilai-nilai yang tidak lagi sejalan.

Dilansir dari Expert Editor pada Senin (19/1), terdapat tujuh nilai yang paling sering menjadi sumber konflik tersembunyi antara generasi tua dan generasi muda.

1. Makna Hormat: Antara Kepatuhan dan Kesetaraan

Bagi generasi tua, rasa hormat sering dimaknai sebagai kepatuhan: mendengarkan tanpa membantah, mengikuti arahan, dan menempatkan yang lebih tua sebagai otoritas utama.

Nilai ini terbentuk di masa ketika hierarki keluarga sangat kuat dan dipandang sebagai kunci keharmonisan.

Sebaliknya, generasi muda cenderung memaknai hormat sebagai sikap saling menghargai. Mereka merasa tetap sopan meski menyampaikan pendapat berbeda. Ketika orang tua melihat perbedaan pendapat sebagai pembangkangan, generasi muda justru merasa sedang bersikap jujur.

Di sinilah jarak emosional mulai muncul, bukan karena kurang ajar, melainkan karena definisi “hormat” yang berbeda.

2. Cara Berkomunikasi: Menasihati vs Mendiskusikan

Generasi tua dibesarkan dalam budaya komunikasi satu arah: yang tua berbicara, yang muda mendengar. Menasihati adalah bentuk kepedulian dan cinta.

Dalam psikologi, ini disebut sebagai directive communication, yang dulu dianggap efektif.

Namun generasi muda lebih terbiasa dengan komunikasi dua arah. Mereka ingin diajak berdiskusi, bukan hanya diberi nasihat.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore