Logo JawaPos
Author avatar - Image
24 Januari 2026, 17.18 WIB

Psikologi Ungkap Ini Dia 8 Kebiasaan yang Dilakukan Seseorang yang Pernah Mengalami Hidup Serba Kekurangan

Ilustrasi kebiasaan yang dilakukan seseorang yang pernah mengalami hidup serba kekurangan (Geediting) - Image

Ilustrasi kebiasaan yang dilakukan seseorang yang pernah mengalami hidup serba kekurangan (Geediting)


JawaPos.Com - Di era modern, berbagai kemudahan hidup tersedia dan terjangkau. Namun menariknya, ada orang-orang yang secara sadar menolak menggunakan fasilitas sederhana, meski secara finansial sebenarnya mampu. Mulai dari enggan membayar parkir hingga menolak layanan pesan antar, pilihan ini sering dianggap pelit atau ketinggalan zaman.

Padahal, menurut psikologi, kebiasaan tersebut kerap berakar dari pengalaman hidup dalam kondisi kekurangan, baik secara finansial maupun emosional. Pola pikir ini terbentuk sejak kecil dan terus terbawa hingga dewasa.

Dilansir dari laman Global English Editing, Jumat (23/01), berikut adalah delapan kemudahan sehari-hari yang sering ditolak oleh orang dengan latar belakang hidup serba kekurangan.

1. Sayuran potong dan makanan siap saji

Membayar lebih untuk bawang yang sudah dipotong atau selada yang sudah dicuci terasa seperti pemborosan. Meski hanya selisih sedikit dan bisa menghemat banyak waktu, otak yang terbiasa hidup hemat langsung memberi label “boros”.

2. Layanan langganan hiburan

Platform seperti Netflix atau Spotify sering dianggap kemewahan. Pengeluaran bulanan terasa mengancam, meski jika dihitung, biayanya sering lebih murah dibanding membeli satuan secara terpisah.

3. Produk kertas berkualitas

Tisu toilet atau tisu dapur berkualitas tinggi sering dihindari. Pilihan jatuh pada yang paling murah, meski akhirnya justru lebih boros karena pemakaian jadi dua kali lipat.

4. Biaya parkir di lokasi strategis

Menghabiskan waktu berputar-putar mencari parkir gratis atau berjalan jauh demi menghemat uang parkir adalah hal biasa. Waktu dan kenyamanan tidak masuk perhitungan—yang penting uang tidak keluar.

5. Jasa profesional yang bisa dilakukan sendiri

Membersihkan rumah, memperbaiki peralatan, atau merawat taman akan dikerjakan sendiri jika masih sanggup. Membayar orang lain terasa seperti kegagalan pribadi, bukan sekadar soal biaya.

6. Teknologi baru selama yang lama masih berfungsi

Ponsel lama yang sudah lambat atau laptop yang butuh waktu lama untuk menyala tetap dipertahankan. Selama masih “bisa dipakai”, mengganti dianggap tidak perlu, meski waktu terbuang setiap hari.

7. Akomodasi perjalanan yang nyaman

Penerbangan transit berkali-kali, hotel murah seadanya, atau duduk lama di kursi sempit dipilih demi selisih harga. Kenyamanan dianggap kemewahan yang tidak perlu.

8. Biaya antar dan tip layanan

Meski lelah atau sakit, mereka memilih mengambil sendiri pesanan makanan daripada membayar ongkos kirim. Membayar ekstra demi kemudahan memicu alarm “pemborosan” dalam pikiran.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore