
Ilustrasi kebiasaan yang dilakukan seseorang yang pernah mengalami hidup serba kekurangan (Geediting)
JawaPos.Com - Di era modern, berbagai kemudahan hidup tersedia dan terjangkau. Namun menariknya, ada orang-orang yang secara sadar menolak menggunakan fasilitas sederhana, meski secara finansial sebenarnya mampu. Mulai dari enggan membayar parkir hingga menolak layanan pesan antar, pilihan ini sering dianggap pelit atau ketinggalan zaman.
Padahal, menurut psikologi, kebiasaan tersebut kerap berakar dari pengalaman hidup dalam kondisi kekurangan, baik secara finansial maupun emosional. Pola pikir ini terbentuk sejak kecil dan terus terbawa hingga dewasa.
Dilansir dari laman Global English Editing, Jumat (23/01), berikut adalah delapan kemudahan sehari-hari yang sering ditolak oleh orang dengan latar belakang hidup serba kekurangan.
Membayar lebih untuk bawang yang sudah dipotong atau selada yang sudah dicuci terasa seperti pemborosan. Meski hanya selisih sedikit dan bisa menghemat banyak waktu, otak yang terbiasa hidup hemat langsung memberi label “boros”.
Platform seperti Netflix atau Spotify sering dianggap kemewahan. Pengeluaran bulanan terasa mengancam, meski jika dihitung, biayanya sering lebih murah dibanding membeli satuan secara terpisah.
Tisu toilet atau tisu dapur berkualitas tinggi sering dihindari. Pilihan jatuh pada yang paling murah, meski akhirnya justru lebih boros karena pemakaian jadi dua kali lipat.
Menghabiskan waktu berputar-putar mencari parkir gratis atau berjalan jauh demi menghemat uang parkir adalah hal biasa. Waktu dan kenyamanan tidak masuk perhitungan—yang penting uang tidak keluar.
Membersihkan rumah, memperbaiki peralatan, atau merawat taman akan dikerjakan sendiri jika masih sanggup. Membayar orang lain terasa seperti kegagalan pribadi, bukan sekadar soal biaya.
Ponsel lama yang sudah lambat atau laptop yang butuh waktu lama untuk menyala tetap dipertahankan. Selama masih “bisa dipakai”, mengganti dianggap tidak perlu, meski waktu terbuang setiap hari.
Penerbangan transit berkali-kali, hotel murah seadanya, atau duduk lama di kursi sempit dipilih demi selisih harga. Kenyamanan dianggap kemewahan yang tidak perlu.
Meski lelah atau sakit, mereka memilih mengambil sendiri pesanan makanan daripada membayar ongkos kirim. Membayar ekstra demi kemudahan memicu alarm “pemborosan” dalam pikiran.
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
