Logo JawaPos
Author avatar - Image
24 Januari 2026, 22.52 WIB

Orang yang Terus-Menerus Merasa Terkuras Energinya oleh Orang Lain Seringkali Tidak Menyadari Bahwa Mereka Sedang Dimanfaatkan Menurut Psikologi

seseorang yang energinya terkuras oleh orang lain./ Freepik/EyeEm - Image

seseorang yang energinya terkuras oleh orang lain./ Freepik/EyeEm

JawaPos.com - Ada orang-orang yang setiap hari merasa lelah—bukan karena pekerjaan fisik yang berat, bukan pula karena kurang tidur—melainkan karena interaksi dengan orang lain. Anehnya, mereka sering mengira itu hal yang wajar.

Mereka menyebut diri mereka “terlalu baik”, “nggak enakan”, atau “memang dari dulu suka bantu orang.”

Padahal menurut psikologi, kondisi ini bisa menjadi tanda bahwa mereka sedang dimanfaatkan secara emosional, hanya saja mereka belum menyadarinya.

Fenomena ini sering terjadi pada pribadi yang empatik, peduli, dan punya rasa tanggung jawab tinggi terhadap perasaan orang lain.

Niatnya tulus, tapi tanpa batas yang sehat, kebaikan hati justru berubah menjadi pintu masuk bagi orang-orang yang gemar mengambil tanpa memberi kembali.

Dilansir dari Geediting pada Sabtu (24/1), terdapat beberapa tanda psikologis bahwa rasa lelah emosional yang terus-menerus bisa jadi bukan sekadar capek biasa—melainkan sinyal bahwa kamu sedang diperas secara emosional.

1. Selalu Jadi Tempat Bersandar, Tapi Tak Pernah Disandari

Kamu selalu ada saat orang lain butuh curhat, bantuan, atau dukungan. Telepon tengah malam? Kamu angkat. Pesan panjang penuh drama? Kamu balas dengan sabar. Tapi ketika kamu yang sedang jatuh, dunia terasa sunyi.

Secara psikologis, hubungan yang sehat itu timbal balik. Bukan selalu 50:50 dalam setiap momen, tapi ada keseimbangan jangka panjang. Jika kamu terus menjadi “penopang emosi” orang lain tanpa pernah ditopang, itu bukan empati lagi — itu eksploitasi emosional yang terselubung.

2. Merasa Bersalah Saat Mengatakan “Tidak”

Orang yang sering dimanfaatkan biasanya punya pola pikir:
“Kalau aku nolak, aku jahat.”
“Nanti dia kecewa.”
“Cuma aku yang bisa bantu dia.”

Ini disebut guilt-driven compliance dalam psikologi — perilaku menuruti orang lain karena rasa bersalah, bukan karena benar-benar mau. Orang lain (sadar atau tidak) bisa membaca pola ini dan mulai bergantung berlebihan padamu karena tahu kamu sulit menolak.

Lama-lama, kamu bukan membantu karena ingin, tapi karena takut merasa bersalah.

3. Masalah Orang Lain Terasa Seperti Beban Pribadi

Kamu ikut stres memikirkan hidup orang lain. Ikut cemas dengan drama hubungan mereka. Ikut pusing dengan masalah keuangan mereka. Bahkan mood-mu rusak hanya karena mereka lagi dalam suasana hati buruk.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore