
seseorang yang dapat duduk diam dengan nyaman./Freepik/benzoix
JawaPos.com - Di dunia yang serba cepat dan penuh distraksi, kemampuan untuk duduk diam—tanpa gelisah, tanpa harus terus menggulir layar, dan tanpa dorongan kuat untuk “melarikan diri”—sering kali dianggap sepele.
Padahal, menurut psikologi, kemampuan ini bukan sekadar kebiasaan atau sifat introvert.
Lebih dari itu, duduk diam dengan nyaman sering kali menjadi tanda adanya keamanan emosional (emotional security) yang kuat di dalam diri seseorang.
Keamanan emosional merujuk pada kondisi psikologis di mana seseorang merasa cukup aman dengan dirinya sendiri, emosinya, dan realitas yang sedang ia hadapi.
Orang yang memilikinya tidak selalu terlihat tenang setiap saat, tetapi mereka mampu berada dengan apa pun yang muncul di dalam diri mereka—termasuk pikiran yang tidak nyaman.
Dilansir dari Geediting pada Senin (26/1), terdapat tujuh ciri keamanan emosional yang kerap dimiliki oleh orang-orang yang bisa duduk diam dengan nyaman menurut perspektif psikologi.
1. Mereka Nyaman dengan Kesunyian
Bagi banyak orang, kesunyian terasa canggung atau bahkan menakutkan. Saat tidak ada suara atau aktivitas, pikiran mulai “berisik”. Namun, orang yang aman secara emosional tidak melihat kesunyian sebagai ancaman.
Dalam psikologi, kemampuan untuk menikmati kesunyian menunjukkan bahwa seseorang tidak bergantung pada stimulasi eksternal untuk merasa “baik-baik saja”. Mereka tidak perlu terus berbicara, mendengar musik, atau melakukan sesuatu hanya untuk menghindari perasaan tertentu. Kesunyian justru menjadi ruang refleksi, bukan ruang pelarian.
2. Mereka Tidak Takut Berhadapan dengan Pikiran Sendiri
Duduk diam berarti memberi kesempatan bagi pikiran untuk muncul apa adanya. Ini bisa berupa kenangan, kekhawatiran, atau emosi yang belum selesai. Banyak orang menghindari momen ini karena takut kewalahan.
Orang dengan keamanan emosional cenderung mampu menghadapi pikiran-pikiran tersebut tanpa panik.
Bukan karena mereka tidak memiliki masalah, tetapi karena mereka percaya bahwa emosi—seberat apa pun—bisa dirasakan tanpa harus menghancurkan diri mereka. Dalam psikologi, ini berkaitan dengan emotional tolerance dan self-regulation yang sehat.
3. Mereka Tidak Bergantung pada Validasi Eksternal
Seseorang yang terus-menerus mencari perhatian, respons, atau pengakuan sering kali sulit duduk diam. Ada dorongan untuk “melakukan sesuatu” agar tetap terlihat, terdengar, atau diakui.
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
