seseorang yang diam ketika terluka./Freepik/Ambreen
JawaPos.com - Dalam kehidupan sehari-hari, tidak semua orang mengekspresikan rasa sakitnya dengan air mata, kemarahan, atau keluhan yang panjang. Ada juga mereka yang justru memilih diam.
Mereka tetap tersenyum, tetap menjalani rutinitas, tetapi menyimpan luka itu rapat-rapat di dalam hati.
Dalam perspektif ilmu seperti yang dijelaskan oleh tokoh-tokoh seperti Sigmund Freud dan Carl Rogers, respons seseorang terhadap luka emosional sangat dipengaruhi oleh struktur kepribadian, pengalaman masa lalu, serta cara mereka memaknai diri sendiri.
Diam bukan berarti tidak merasakan apa-apa. Justru sering kali, diam adalah mekanisme bertahan.
Baca Juga: Kerap Mengembalikan Troli Belanja Mereka ke Tempatnya dan Tidak Meninggalkannya di Tempat Parkir, Biasanya Menunjukkan 8 Ciri Ini Menurut Psikologi
Dilansir dari Geediting pada Rabu (25/2), terdapat tujuh ciri kepribadian yang sering dimiliki oleh orang-orang yang memilih diam ketika terluka.
1. Sangat Menjaga Privasi Emosional
Mereka tidak mudah membuka isi hati kepada sembarang orang. Bagi mereka, perasaan adalah sesuatu yang personal dan sakral. Hanya orang-orang tertentu yang benar-benar dipercaya yang boleh mengetahui sisi rapuhnya.
Dalam pendekatan psikologi humanistik, menjaga privasi ini sering berkaitan dengan kebutuhan akan rasa aman. Mereka takut jika luka yang diungkapkan justru menjadi bahan penilaian atau bahkan dimanfaatkan orang lain.
2. Memiliki Tingkat Empati yang Tinggi
Menariknya, banyak orang yang diam ketika terluka justru sangat peka terhadap perasaan orang lain. Mereka tahu bagaimana rasanya disakiti, sehingga berusaha keras untuk tidak melakukan hal yang sama kepada orang lain.
Baca Juga: Bareskrim Polri Ambil Alih Pengejaran Bandar Narkoba Ko Erwin, Diduga Setor Uang Miliaran Rupiah ke Mantan Kapolres Bima Kota
Menurut teori kecerdasan emosional yang dipopulerkan oleh Daniel Goleman, empati yang tinggi membuat seseorang lebih mampu memahami emosi orang lain, tetapi tidak selalu berarti ia mampu atau mau mengekspresikan emosinya sendiri.
3. Cenderung Menghindari Konflik
Sebagian dari mereka memilih diam karena tidak ingin memperpanjang masalah. Mereka berpikir bahwa berbicara mungkin akan memicu pertengkaran atau memperkeruh suasana.
Dalam teori kepribadian Big Five yang dikembangkan oleh Paul Costa dan Robert McCrae, kecenderungan ini sering berkaitan dengan tingkat agreeableness yang tinggi—mereka lebih suka menjaga harmoni dibanding memenangkan argumen.
4. Terbiasa Mandiri Secara Emosional
Orang yang memilih diam saat terluka sering kali sudah terbiasa menyelesaikan masalahnya sendiri. Mereka tidak ingin merepotkan orang lain atau merasa tidak nyaman bergantung secara emosional.
Pengalaman masa lalu, seperti kurangnya dukungan emosional di masa kecil, bisa membentuk pola ini. Mereka belajar bahwa satu-satunya orang yang bisa benar-benar diandalkan adalah diri sendiri.
5. Memiliki Kontrol Diri yang Kuat
Diam kadang bukan karena tidak mampu berbicara, tetapi karena mampu menahan diri. Mereka berpikir sebelum bereaksi. Mereka memilih waktu dan tempat yang tepat—atau bahkan memilih untuk tidak bereaksi sama sekali.
Dalam pendekatan psikologi kognitif, kontrol diri yang kuat berkaitan dengan kemampuan regulasi emosi. Mereka menekan dorongan impulsif untuk meluapkan amarah atau kesedihan.
6. Cenderung Overthinking
Di balik sikap diam, sering terjadi percakapan panjang di dalam kepala mereka. Mereka menganalisis ulang kejadian, mempertanyakan diri sendiri, bahkan menyalahkan diri sendiri.
Menurut konsep mekanisme pertahanan diri yang diperkenalkan oleh Anna Freud, sebagian orang menggunakan mekanisme internal seperti rasionalisasi atau represi untuk menghadapi rasa sakit, alih-alih mengekspresikannya secara terbuka.
7. Memiliki Batas Kesabaran yang Dalam, Namun Tegas
Orang yang diam bukan berarti bisa disakiti tanpa batas. Mereka mungkin memaafkan berkali-kali, tetapi ketika batas itu benar-benar terlewati, mereka bisa memilih pergi tanpa banyak kata.
Keputusan mereka sering kali final. Tidak dramatis, tidak penuh amarah, hanya sunyi—namun tegas.
Diam Bukan Berarti Lemah
Dalam budaya tertentu, diam sering disalahartikan sebagai kelemahan atau ketidakmampuan membela diri. Padahal, dalam banyak kasus, diam adalah pilihan sadar. Itu adalah cara seseorang melindungi diri, menjaga martabat, atau mengelola emosi dengan caranya sendiri.
Namun demikian, penting juga untuk diingat bahwa memendam luka terlalu lama bisa berdampak pada kesehatan mental. Psikologi modern menekankan pentingnya komunikasi yang sehat dan dukungan sosial sebagai bagian dari kesejahteraan emosional.
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
