Logo JawaPos
Author avatar - Image
06 Februari 2026, 00.35 WIB

7 Alasan Mengapa Kita Merasa Lebih Dekat dengan Orang yang Berbagi Kerentanan daripada Kesuksesan

seseorang yang merasa dekat dengan orang yang berbagi kerentanan./Freepik/freepik - Image

seseorang yang merasa dekat dengan orang yang berbagi kerentanan./Freepik/freepik

JawaPos.com - Dalam kehidupan sosial modern—baik di dunia nyata maupun di media sosial—kita terus-menerus menyaksikan dua jenis narasi manusia: kisah keberhasilan dan kisah kerentanan.

Ada orang yang membagikan pencapaian, prestasi, kemenangan, dan keberhasilan mereka, sementara yang lain membagikan rasa takut, kegagalan, kesedihan, luka batin, kebingungan, dan ketidaksempurnaan hidup.

Dilansir dari Geediting pada Senin (2/2), secara psikologis, manusia cenderung merasa lebih dekat secara emosional dengan orang yang berbagi kerentanan dibandingkan dengan mereka yang hanya menampilkan kesuksesan.

Fenomena ini bukan sekadar perasaan subjektif, tetapi memiliki dasar kuat dalam psikologi sosial, psikologi emosi, dan ilmu hubungan interpersonal. Kerentanan bukan hanya membuka cerita hidup, tetapi membuka koneksi manusia.

1. Kerentanan Menciptakan Rasa Aman Psikologis (Psychological Safety)

Ketika seseorang berbagi ketakutan, kegagalan, trauma, atau ketidaksempurnaan, ia sedang mengirim sinyal psikologis penting:

“Aku tidak sempurna, dan aku berani menunjukkannya kepadamu.”

Dalam psikologi, ini menciptakan psychological safety—rasa aman secara emosional. Otak manusia secara naluriah mencari lingkungan sosial yang aman dari ancaman, penilaian, dan penolakan. Kerentanan menunjukkan bahwa seseorang tidak sedang membangun “topeng sosial”, tidak sedang berkompetisi, dan tidak sedang memposisikan diri lebih tinggi.

Sebaliknya, ketika seseorang hanya membagikan kesuksesan:

Otak bisa membaca itu sebagai kompetisi sosial

Muncul jarak hierarkis: “dia di atas, aku di bawah”

Terbentuk perasaan inferioritas, bukan kedekatan

Kerentanan menurunkan tembok psikologis, sedangkan kesuksesan sering tanpa sadar membangun tembok sosial.

2. Otak Kita Terhubung Lewat Emosi, Bukan Prestasi

Secara neurologis, hubungan manusia dibangun lewat emosi, bukan informasi atau status. Sistem limbik (bagian otak yang mengatur emosi dan empati) merespons kuat terhadap:

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore