
seseorang yang kesulitan menetapkan batasan./Freepik/odua
JawaPos.com - Dalam kehidupan dewasa, kemampuan menetapkan batasan (boundaries) adalah keterampilan psikologis yang sangat penting.
Batasan membantu seseorang menjaga kesehatan mental, membangun hubungan yang sehat, dan mempertahankan harga diri. Namun, tidak semua orang tumbuh dengan pemahaman yang sehat tentang batasan diri.
Banyak orang dewasa yang merasa sulit berkata "tidak", merasa bersalah saat memprioritaskan diri sendiri, atau terus-menerus merasa bertanggung jawab atas perasaan orang lain.
Menurut psikologi perkembangan dan psikologi keluarga, kesulitan ini sering kali berakar dari pola asuh dan lingkungan keluarga saat masa kecil.
Rumah adalah tempat pertama anak belajar tentang relasi, emosi, dan identitas diri. Jika pola yang tidak sehat dianggap normal, anak akan tumbuh dengan persepsi yang keliru tentang hubungan dan batasan pribadi.
Dilansir dari Expert Editor pada Senin (9/2), terdapat 9 hal yang sering dianggap normal di rumah, tetapi secara psikologis justru berkontribusi pada kesulitan menetapkan batasan saat dewasa.
1. Anak Tidak Boleh Mengatakan "Tidak" kepada Orang Tua
Di banyak keluarga, anak diajarkan bahwa menolak orang tua adalah bentuk pembangkangan atau ketidaktaatan. Kalimat seperti:
"Kamu harus nurut, orang tua selalu benar"
"Jangan melawan orang tua"
membentuk keyakinan bahwa kebutuhan diri sendiri tidak penting. Anak belajar bahwa menuruti orang lain lebih penting daripada menghargai perasaan dan batasannya sendiri.
Dampak saat dewasa: Orang tersebut akan sulit berkata tidak, takut mengecewakan orang lain, dan cenderung people-pleasing (selalu ingin menyenangkan orang lain).
Baca Juga: DPRD Surabaya Berkabung, Kibarkan Bendera Setengah Tiang untuk Adi Sutarwijono yang Berpulang
2. Privasi Tidak Dihargai
Masuk kamar tanpa mengetuk, membaca pesan pribadi anak, atau memeriksa barang-barang pribadi tanpa izin sering dianggap wajar.
