seseorang yang berkembang di usia lanjut
JawaPos.com - Dalam dunia yang sering memuja kesuksesan dini, kita kerap mengagumi tokoh-tokoh seperti Mark Zuckerberg atau Taylor Swift yang mencapai puncak karier di usia muda. Namun, psikologi perkembangan menunjukkan bahwa mereka yang justru “mekar” di usia lanjut sering kali mengembangkan seperangkat kekuatan batin yang berbeda—dan dalam banyak hal, lebih dalam.
Menurut teori perkembangan psikososial dari Erik Erikson, tahap akhir kehidupan bukanlah masa kemunduran, melainkan fase integritas dan kebijaksanaan. Sementara itu, penelitian tentang “late bloomers” oleh penulis seperti Rich Karlgaard menegaskan bahwa banyak individu mencapai potensi tertinggi mereka setelah melalui proses panjang eksplorasi, kegagalan, dan refleksi.
Dilansir dari Geediting pada MInggu (15/2), terdapat sembilan kekuatan yang sering berkembang pada orang yang mencapai puncak di usia lanjut—kekuatan yang jarang dimiliki oleh mereka yang terlalu cepat berada di puncak.
Baca Juga: Orang yang Selalu Datang 10 Menit Lebih Awal Biasanya Menunjukkan 8 Ciri Kepribadian Berikut Ini Menurut Psikologi
1. Ketahanan Emosional yang Teruji Waktu
Orang yang berkembang di usia lanjut biasanya telah melewati lebih banyak kegagalan, penolakan, dan perubahan hidup. Dari sudut pandang psikologi, paparan terhadap kesulitan yang dikelola dengan baik membangun resilience yang autentik.
Berbeda dengan kesuksesan muda yang kadang datang sebelum identitas benar-benar matang, individu yang sukses di usia lanjut belajar mengelola rasa kecewa, kritik, dan ketidakpastian tanpa kehilangan arah diri.
2. Identitas Diri yang Lebih Stabil
Menurut teori perkembangan identitas, pembentukan jati diri membutuhkan waktu. Mereka yang mencapai keberhasilan lebih lambat sering kali telah melalui eksplorasi nilai, tujuan, dan makna hidup yang lebih mendalam.
Kesuksesan yang datang setelah proses panjang ini biasanya berdiri di atas fondasi identitas yang kuat—bukan sekadar pencapaian eksternal.
Baca Juga: 8 Alasan Mengapa Orang yang Tumbuh sebagai Anak Pendiam Sering Menjadi Orang Dewasa yang Paling Cerdas Secara Emosional Menurut Psikologi
3. Kebijaksanaan Praktis (Practical Wisdom)
Psikologi membedakan antara kecerdasan kognitif dan kebijaksanaan. Kebijaksanaan lahir dari pengalaman hidup yang luas dan refleksi yang konsisten.
Individu yang berkembang di usia lanjut cenderung memiliki kemampuan melihat persoalan dari berbagai perspektif, memahami nuansa, dan mengambil keputusan dengan mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang.
4. Regulasi Emosi yang Lebih Baik
Penelitian dalam psikologi perkembangan menunjukkan bahwa kemampuan mengatur emosi sering meningkat seiring bertambahnya usia. Mereka menjadi lebih selektif terhadap konflik, lebih tenang dalam tekanan, dan tidak mudah reaktif.
Hal ini membuat kepemimpinan atau kontribusi mereka sering kali lebih stabil dan berjangka panjang.
5. Orientasi pada Makna, Bukan Sekadar Prestasi
Menurut aliran psikologi humanistik yang dipelopori oleh Abraham Maslow, kebutuhan aktualisasi diri muncul setelah kebutuhan dasar terpenuhi. Banyak orang yang “mekar” di usia lanjut tidak lagi sekadar mengejar status, melainkan dampak dan makna.
Mereka bertanya: Apa kontribusi saya? bukan hanya Apa pencapaian saya?
6. Kemampuan Membangun Relasi yang Mendalam
Dengan bertambahnya usia, prioritas sosial berubah. Orang cenderung lebih memilih hubungan yang bermakna daripada jaringan luas namun dangkal.
Mereka yang berkembang lebih lambat sering kali memiliki empati yang lebih dalam, kemampuan mendengar yang lebih baik, dan kecakapan membaca dinamika interpersonal dengan lebih halus.
7. Fleksibilitas Kognitif
Ironisnya, meskipun usia sering dikaitkan dengan penurunan kemampuan kognitif tertentu, pengalaman panjang justru meningkatkan pola pikir adaptif. Orang yang telah beberapa kali mengubah arah hidup mengembangkan mentalitas belajar ulang (re-learning).
Mereka tidak terlalu melekat pada satu identitas profesional, sehingga lebih siap bertransformasi.
8. Kesabaran Strategis
Kesuksesan dini kadang membentuk ekspektasi instan. Sebaliknya, mereka yang membutuhkan waktu lebih lama untuk berhasil memahami bahwa proses adalah bagian penting dari pertumbuhan.
Kesabaran ini bukan pasif, melainkan strategis—mereka tahu kapan harus menunggu, kapan harus bergerak, dan kapan harus mundur untuk jangka panjang.
9. Integritas dan Keutuhan Diri
Pada tahap akhir perkembangan menurut Erik Erikson, individu menghadapi krisis antara integritas dan keputusasaan. Mereka yang berhasil mengintegrasikan pengalaman hidupnya mengembangkan rasa utuh terhadap diri sendiri.
Keutuhan ini menciptakan rasa percaya diri yang tidak rapuh—bukan karena belum pernah gagal, tetapi karena sudah berdamai dengan kegagalan.
Penutup: Kesuksesan Bukan Soal Kecepatan
Budaya modern sering merayakan “30 under 30” dan pencapaian spektakuler di usia muda. Namun psikologi menunjukkan bahwa perkembangan manusia tidak linear dan tidak seragam.
Sebagian orang memang bersinar lebih awal. Tetapi banyak pula yang memerlukan waktu untuk menemukan panggilan, mengasah karakter, dan mengintegrasikan pengalaman hidup sebelum benar-benar berkembang.
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
