Logo JawaPos
Author avatar - Image
22 Februari 2026, 22.01 WIB

Jika Anda Mencari Alasan untuk Perilaku Buruk, Psikologi Mengatakan Anda Mempelajari 8 Keyakinan Ini Sejak Usia Dini

seseorang yang sering mencari alasan untuk perilaku buruk (Freepik/freepik)

JawaPos.com - Pernahkah Anda menyadari bahwa Anda terus-menerus membela seseorang yang menyakiti Anda? Anda berkata pada diri sendiri, “Dia cuma lagi stres,” atau “Sebenarnya dia baik, cuma lagi banyak masalah.” Jika ini terasa familiar, Anda tidak sendirian.

Psikologi menunjukkan bahwa kecenderungan untuk mencari pembenaran atas perlakuan buruk sering kali bukan sekadar kebiasaan dewasa. Pola ini biasanya berakar dari keyakinan yang terbentuk sejak masa kanak-kanak. Tokoh-tokoh seperti John Bowlby dan Albert Bandura telah lama menjelaskan bahwa pengalaman awal kita membentuk cara kita memaknai cinta, konflik, dan harga diri.

Dilansir dari Expert Editor pada Jumat (20/2), jika Anda sering memaklumi perilaku buruk, kemungkinan besar Anda pernah mempelajari beberapa keyakinan berikut ini sejak kecil.

1. “Cinta Harus Diperjuangkan”

Anak yang tumbuh dalam lingkungan di mana kasih sayang bersyarat sering belajar bahwa cinta tidak datang dengan mudah. Mereka harus “baik”, “tidak merepotkan”, atau “berprestasi” untuk mendapatkan perhatian.

Akibatnya, saat dewasa, mereka cenderung bertahan dalam hubungan yang menyakitkan karena merasa cinta memang harus diperjuangkan—bahkan jika itu berarti mengorbankan diri sendiri.

2. “Perasaan Saya Tidak Terlalu Penting”

Jika sejak kecil perasaan Anda diabaikan atau diremehkan, Anda mungkin belajar bahwa emosi Anda bukan prioritas. Kalimat seperti “Ah, kamu lebay” atau “Itu kan hal kecil” dapat membentuk keyakinan mendalam bahwa rasa sakit Anda tidak valid.

Sebagai orang dewasa, Anda mungkin lebih mudah membenarkan perilaku buruk orang lain daripada membela diri sendiri.

3. “Konflik Itu Berbahaya”

Dalam teori keterikatan John Bowlby, anak yang hidup dalam suasana konflik intens sering mengembangkan kecemasan terhadap pertengkaran. Mereka belajar bahwa konflik bisa berarti kehilangan kasih sayang.

Akibatnya, mereka menghindari konfrontasi dan lebih memilih mencari alasan untuk perilaku buruk daripada menghadapi ketidaknyamanan.

4. “Kalau Saya Lebih Baik, Mereka Akan Berubah”

Berdasarkan teori pembelajaran sosial dari Albert Bandura, anak belajar dengan mengamati. Jika mereka melihat figur dewasa terus berusaha “memperbaiki” pasangan atau anggota keluarga yang bermasalah, mereka meniru pola itu.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore