Logo JawaPos
Author avatar - Image
24 Februari 2026, 05.09 WIB

Pernah Mendengar 9 Frasa Ini Saat Tumbuh Dewasa? Kemungkinan Besar Memiliki Orang Tua yang Suka Melakukan Perundungan Emosional Menurut Psikologi

seseorang yang memiliki orang tua yang sering merundung./Freepik/freepik

JawaPos.com - Tidak semua luka terlihat. Sebagian dari kita tumbuh dengan rumah yang tampak “baik-baik saja” dari luar, tetapi menyimpan dinamika yang secara emosional menyakitkan.

Dalam psikologi, pola komunikasi yang merendahkan, mengontrol, mempermalukan, atau memanipulasi anak secara konsisten dapat dikategorikan sebagai bentuk perundungan emosional dalam keluarga.

Istilah seperti emotional abuse telah lama dibahas dalam literatur psikologi perkembangan.

Psikolog seperti Susan Forward dalam bukunya Toxic Parents menjelaskan bagaimana kata-kata orang tua bisa membentuk luka psikologis yang bertahan hingga dewasa.

Sementara itu, John Bowlby melalui teori attachment menekankan bahwa pola interaksi awal antara anak dan orang tua sangat menentukan kesehatan emosional jangka panjang.

Dilansir dari Geediting pada Sabtu (21/2), jika Anda pernah sering mendengar frasa-frasa berikut saat kecil, mungkin ada dinamika perundungan emosional yang terjadi — meskipun dulu itu terasa “normal”.

1. “Kamu terlalu sensitif.”


Kalimat ini sering digunakan untuk menolak perasaan anak. Alih-alih membantu anak memahami emosinya, orang tua justru meremehkan respons emosionalnya. Lama-kelamaan, anak belajar bahwa perasaannya tidak valid.

Dampaknya?

Baca Juga: Musik yang Anda Dengarkan Saat Usia 14 Tahun Membentuk 8 Aspek Kepribadian Anda Saat Dewasa Menurut Psikologi

Sulit mengenali emosi sendiri

Merasa bersalah saat sedih atau marah

Cenderung memendam perasaan

2. “Lihat tuh anak orang lain…”


Perbandingan adalah bentuk kontrol yang halus namun menyakitkan. Anak tidak dihargai sebagai individu unik, melainkan sebagai proyek yang harus memenuhi standar eksternal.

Menurut teori perkembangan psikososial dari Erik Erikson, masa kanak-kanak adalah fase penting pembentukan identitas dan rasa kompetensi. Perbandingan terus-menerus dapat merusak rasa percaya diri dan menanamkan keyakinan bahwa diri “tidak pernah cukup”.

Baca Juga: Mengamati Tiga Pasangan Generasi Tua yang Pensiun Bersama, Hanya Satu yang Tetap Bahagia. Berikut 7 Perbedaan yang Saya Temukan

3. “Kamu bikin Mama/Papa malu.”

Kalimat ini menanamkan rasa bersalah dan tanggung jawab yang tidak sehat pada anak. Anak belajar bahwa nilai dirinya tergantung pada citra sosial orang tua.

Akibat jangka panjangnya bisa berupa:

People-pleasing berlebihan

Takut mengecewakan orang lain

Kecemasan sosial

4. “Kalau bukan karena kamu…”


Frasa ini adalah bentuk manipulasi emosional. Anak dijadikan kambing hitam atas stres, masalah keuangan, atau konflik dalam keluarga.

Psikologi menyebut pola ini sebagai parentification — ketika anak dibebani tanggung jawab emosional orang dewasa.

5. “Jangan nangis! Cengeng!”


Menekan ekspresi emosi, terutama pada anak laki-laki, sering dianggap sebagai bentuk “pendisiplinan”. Padahal, validasi emosi sangat penting dalam perkembangan regulasi diri.

Penelitian tentang kecerdasan emosional yang dipopulerkan oleh Daniel Goleman menunjukkan bahwa kemampuan memahami dan mengelola emosi justru menjadi kunci keberhasilan hidup, bukan menekannya.

6. “Kamu nggak akan bisa apa-apa tanpa saya.”


Kalimat ini menciptakan ketergantungan dan merusak rasa otonomi anak. Anak tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya tidak kompeten.

Dampaknya bisa meliputi:

Takut mengambil keputusan

Ragu pada kemampuan diri

Bergantung pada validasi eksternal

7. “Ah, itu cuma bercanda.”


Sering kali hinaan atau ejekan dibungkus sebagai candaan. Jika anak merasa sakit hati, ia dianggap terlalu serius.

Ini adalah bentuk gaslighting ringan — membuat seseorang meragukan persepsi dan perasaannya sendiri.

8. “Orang tua selalu benar.”


Kalimat ini menutup ruang dialog. Anak tidak diberi kesempatan menyampaikan pendapat atau membela diri.

Dalam pola asuh otoriter, kepatuhan lebih penting daripada komunikasi. Padahal hubungan yang sehat dibangun dari rasa saling menghargai.

9. “Kalau kamu sayang Mama/Papa, kamu harus…”


Ini adalah bentuk manipulasi berbasis rasa bersalah. Cinta dijadikan alat kontrol.

Anak belajar bahwa kasih sayang bersifat transaksional — harus dibayar dengan kepatuhan.

Mengapa Banyak Anak Tidak Menyadari Ini?


Karena perundungan emosional jarang terlihat secara fisik. Tidak ada memar. Tidak ada bukti kasat mata. Selain itu, budaya sering menormalisasi pola asuh keras sebagai bentuk “demi kebaikan anak”.

Namun psikologi modern menegaskan bahwa kata-kata memiliki kekuatan besar dalam membentuk self-concept dan pola relasi seseorang di masa depan.

Dampak Jangka Panjang Perundungan Emosional


Beberapa dampak yang umum muncul saat dewasa antara lain:

Overthinking dan self-doubt kronis

Sulit membangun hubungan yang sehat

Takut konflik

Perfeksionisme ekstrem

Harga diri rendah

Kecenderungan masuk ke hubungan toksik

Yang paling menyakitkan: banyak orang dewasa merasa ada yang “salah” dengan dirinya, tanpa sadar bahwa akar masalahnya berasal dari pola komunikasi masa kecil.

Kabar Baiknya: Pola Ini Bisa Diputus


Kesadaran adalah langkah pertama. Mengenali bahwa beberapa kalimat yang dulu dianggap biasa ternyata melukai adalah bentuk keberanian.

Terapi, journaling, membaca literatur psikologi, dan membangun batasan sehat dapat membantu proses penyembuhan. Luka emosional memang tidak terlihat, tetapi sangat mungkin untuk dipulihkan.

Seperti yang sering ditekankan dalam pendekatan terapi modern: Anda tidak bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada Anda saat kecil — tetapi Anda berhak menentukan bagaimana Anda ingin hidup sekarang.
Editor: Hanny Suwindari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore