Logo JawaPos
Author avatar - Image
07 April 2026, 23.36 WIB

7 Hal yang Berhenti Dikendalikan oleh Orang dengan Kekuatan Emosional Tinggi dan Mengapa Mereka Lebih Bahagia

seseorang yang menjadi lebih bahagia./Freepik/benzoix - Image

seseorang yang menjadi lebih bahagia./Freepik/benzoix

JawaPos.com - Dalam kehidupan sehari-hari, kebahagiaan sering kali dianggap sebagai hasil dari kondisi eksternal—uang, status, atau hubungan.

Namun, psikologi modern menunjukkan bahwa kebahagiaan lebih banyak ditentukan oleh bagaimana seseorang mengelola dunia batinnya. Di sinilah konsep kekuatan emosional (emotional strength) menjadi penting.

Orang dengan kekuatan emosional tinggi bukan berarti tidak pernah merasa sedih, marah, atau kecewa. Justru sebaliknya, mereka merasakan emosi secara utuh, tetapi tidak membiarkan emosi tersebut mengendalikan hidup mereka.

Dilansir dari Expert Editor pada Sabtu (4/4), terdapat tujuh hal yang tidak lagi mengendalikan hidup mereka, dan justru menjadi sumber kebahagiaan yang lebih stabil.

1. Pendapat Orang Lain

Orang yang kuat secara emosional tidak menggantungkan harga diri mereka pada validasi eksternal.

Mereka memahami bahwa:

Tidak semua orang akan menyukai mereka
Penilaian orang lain sering dipengaruhi oleh bias pribadi
Mencoba menyenangkan semua orang hanya akan menguras energi mental

Dampak psikologisnya:
Mereka memiliki self-esteem yang lebih stabil karena bersumber dari dalam, bukan dari luar. Ini mengurangi kecemasan sosial dan meningkatkan rasa percaya diri.

2. Masa Lalu yang Tidak Bisa Diubah

Banyak orang terjebak dalam penyesalan. Orang dengan kekuatan emosional memilih untuk belajar dari masa lalu, bukan tinggal di dalamnya.

Mereka:

Menerima kesalahan sebagai bagian dari pertumbuhan
Tidak mengidentifikasi diri mereka dengan kegagalan lama
Fokus pada apa yang bisa dikendalikan saat ini

Mengapa ini membuat bahagia:
Secara psikologis, melepaskan masa lalu mengurangi rumination (pikiran berulang negatif), yang sering dikaitkan dengan depresi.

3. Ketakutan Akan Penolakan

Penolakan adalah bagian dari kehidupan—baik dalam pekerjaan, hubungan, maupun peluang.

Orang yang kuat secara emosional:

Tidak melihat penolakan sebagai cerminan nilai diri
Menganggapnya sebagai informasi atau pengalaman belajar
Tetap berani mengambil risiko

Efeknya:
Mereka memiliki lebih banyak peluang dan pengalaman hidup, yang berkontribusi pada kepuasan hidup yang lebih tinggi.

4. Emosi Sesaat

Mereka tidak membiarkan emosi sementara menentukan keputusan permanen.

Contohnya:

Tidak mengambil keputusan besar saat marah
Tidak menyerah hanya karena merasa lelah
Tidak bereaksi impulsif saat tersinggung

Penjelasan psikologis:
Kemampuan ini disebut emotional regulation, yang merupakan salah satu indikator utama kesehatan mental. Ini membantu mereka membuat keputusan yang lebih rasional dan minim penyesalan.

5. Kebutuhan untuk Selalu Mengontrol Segalanya

Ironisnya, semakin seseorang ingin mengontrol segalanya, semakin besar stres yang dirasakan.

Orang dengan kekuatan emosional:

Menerima bahwa ada hal-hal di luar kendali mereka
Fokus pada respons, bukan situasi
Lebih fleksibel terhadap perubahan

Hasilnya:
Mereka mengalami tingkat stres yang lebih rendah karena tidak terus-menerus melawan realitas.

6. Perbandingan Sosial

Membandingkan diri dengan orang lain adalah jebakan umum di era media sosial.

Namun, orang yang kuat secara emosional:

Mengukur kemajuan berdasarkan diri sendiri
Menghargai proses pribadi
Tidak iri terhadap pencapaian orang lain

Dampak positifnya:
Mereka memiliki contentment (kepuasan batin) yang lebih tinggi dan tidak mudah merasa “kurang”.

7. Kegagalan sebagai Akhir Segalanya

Alih-alih melihat kegagalan sebagai akhir, mereka melihatnya sebagai bagian dari proses.

Mereka:

Mengadopsi growth mindset
Menggunakan kegagalan sebagai umpan balik
Tetap konsisten meskipun hasil belum terlihat

Secara psikologis:
Ini meningkatkan resilience (ketahanan mental), yang terbukti berkorelasi dengan kebahagiaan jangka panjang.

Kesimpulan

Kekuatan emosional bukan tentang menjadi “kuat” dalam arti tidak pernah jatuh, tetapi tentang tidak dikendalikan oleh hal-hal yang sebenarnya tidak perlu mengendalikan kita.

Ketika seseorang berhenti:

Mencari validasi berlebihan
Terjebak masa lalu
Takut pada penolakan
Dikuasai emosi sesaat
Ingin mengontrol segalanya
Membandingkan diri
Takut gagal
maka ruang mental mereka menjadi lebih lapang. Dari situlah kebahagiaan yang lebih stabil dan autentik muncul.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore