Logo JawaPos
Author avatar - Image
09 Oktober 2025, 22.09 WIB

Angin Duduk Tak Sama dengan Masuk Angin Biasa, Kenali Angina Pektoris dan Langkah Pertolongan Pertama yang Tepat

Ilustrasi ketika seseorang mengalami angin duduk (Dok. Freepik)

JawaPos.com - Kesehatan jantung menjadi salah satu aspek terpenting yang perlu dijaga dalam kehidupan sehari-hari. Organ vital ini bekerja tanpa henti memompa darah ke seluruh tubuh, sehingga gangguan sekecil apapun dapat berdampak serius. Di Indonesia, istilah "angin duduk" sering kali terdengar dalam percakapan masyarakat ketika membahas masalah jantung. Sayangnya, banyak orang yang belum memahami secara mendalam tentang kondisi medis ini dan sering menganggapnya sebagai penyakit biasa.

Nyeri dada yang tiba-tiba muncul kerap kali diabaikan oleh sebagian besar masyarakat, bahkan sering disalahartikan sebagai masuk angin biasa. Padahal, angin duduk dan masuk angin adalah dua kondisi yang sangat berbeda, di mana angin duduk merupakan masalah jantung serius sedangkan masuk angin hanya gangguan pencernaan ringan dengan gejala perut kembung dan tidak nyaman. 

Pengetahuan yang minim tentang perbedaan keduanya membuat banyak orang terlambat mendapatkan pertolongan yang tepat untuk angin duduk. Oleh karena itu, penting untuk memahami apa sebenarnya angin duduk, penyebabnya, hingga cara penanganannya yang benar.

Angin duduk dalam istilah medis dikenal sebagai angina pektoris, yaitu kondisi nyeri dada yang terjadi akibat berkurangnya aliran darah ke otot jantung. Kondisi ini bukanlah penyakit tersendiri, melainkan gejala dari penyakit jantung koroner yang mendasarinya. Nyeri yang dirasakan biasanya muncul di area dada bagian tengah atau kiri dan dapat menjalar ke lengan, leher, rahang, atau punggung. Sensasi yang dirasakan penderita sering digambarkan seperti dada tertekan, tercekik, atau seperti ada beban berat di atas dada.

Istilah "angin duduk" berasal dari kebiasaan masyarakat Indonesia yang mengaitkan gejala nyeri dada dengan posisi duduk. Meskipun nama lokalnya terdengar sederhana, kondisi ini sebenarnya cukup serius dan memerlukan perhatian medis. Angina pektoris terjadi ketika otot jantung tidak mendapatkan cukup oksigen dari darah, biasanya karena penyempitan atau penyumbatan pada arteri koroner. Pemahaman yang tepat tentang kondisi ini dapat membantu seseorang mengenali gejalanya lebih dini dan segera mencari pertolongan medis.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa penyebab utama angin duduk merupakan penyempitan pembuluh darah koroner yang memasok darah ke jantung. Dimana penyempitan ini umumnya disebabkan oleh penumpukan plak lemak (aterosklerosis) di dinding arteri, yang mengakibatkan berkurangnya aliran darah kaya oksigen ke otot jantung. Ketika jantung membutuhkan lebih banyak oksigen, seperti saat beraktivitas fisik atau mengalami stres emosional, pasokan yang terbatas ini memicu munculnya nyeri dada. Kondisi ini menjadi sinyal bahwa jantung sedang mengalami kekurangan oksigen.

Beberapa faktor risiko dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami angin duduk. Gaya hidup tidak sehat seperti merokok, pola makan tinggi lemak jenuh, kurang berolahraga, dan obesitas menjadi pemicu utama.

Selain itu, kondisi medis seperti diabetes, hipertensi, kolesterol tinggi, dan riwayat keluarga dengan penyakit jantung juga berkontribusi besar. Faktor usia dan jenis kelamin juga berperan, di mana pria berusia di atas 45 tahun dan wanita setelah menopause memiliki risiko lebih tinggi mengalami angina pektoris.  

Namun, perlu diketahui bahwa angin duduk atau angina pektoris terbagi menjadi beberapa jenis berdasarkan pola dan penyebabnya. Seperti yang dilansir dari Hello Sehat, setiap jenisnya memiliki karakteristik yang berbeda sebagai berikut.

  • Angina Stabil 

Angina stabil merupakan jenis yang paling umum dan memiliki pola yang dapat diprediksi. Nyeri dada biasanya muncul ketika jantung bekerja lebih keras, seperti saat berolahraga, naik tangga, atau mengalami stres emosional. Gejala ini umumnya berlangsung singkat, sekitar 5 menit atau kurang, dan akan mereda dengan istirahat atau konsumsi obat nitrat. Meskipun angina stabil lebih dapat diprediksi, kondisi ini tetap memerlukan perhatian medis karena merupakan tanda penyakit jantung koroner yang mendasari.

  • Angina Tidak Stabil 

Angina tidak stabil adalah kondisi yang lebih serius dan memerlukan penanganan medis darurat segera. Jenis ini dapat terjadi bahkan saat sedang beristirahat dan tidak dipicu oleh aktivitas fisik tertentu. Nyeri yang dirasakan biasanya lebih intens, berlangsung lebih lama (lebih dari 15-20 menit), dan tidak membaik dengan istirahat atau obat-obatan biasa. Angina tidak stabil merupakan tanda peringatan bahwa seseorang berisiko tinggi mengalami serangan jantung dalam waktu dekat, sehingga memerlukan evaluasi dan perawatan medis segera.

  • Angina Varian 

Angina varian, juga dikenal sebagai angina Prinzmetal, disebabkan oleh kejang pada arteri koroner yang menyebabkan penyempitan sementara. Kondisi ini biasanya terjadi saat sedang beristirahat, terutama pada malam hari atau dini hari, bukan saat beraktivitas. Nyeri yang dirasakan bisa sangat intens namun umumnya bersifat siklik dan dapat mereda dengan sendirinya. Meskipun lebih jarang terjadi, angina varian tetap memerlukan pengobatan karena dapat meningkatkan risiko komplikasi jantung serius.

  • Angina Mikrovaskular 

Angina mikrovaskular terjadi akibat gangguan pada pembuluh darah kecil di jantung, bukan pada arteri koroner besar. Jenis ini sering kali lebih sulit didiagnosis karena pemeriksaan standar mungkin tidak menunjukkan penyumbatan yang signifikan. Nyeri dada yang dirasakan biasanya lebih sering terjadi, berlangsung lebih lama, dan dapat sangat mengganggu aktivitas sehari-hari. Wanita lebih berisiko mengalami angina mikrovaskular dibandingkan pria, dan kondisi ini memerlukan pendekatan pengobatan yang berbeda dari jenis angina lainnya.

Angin duduk bukanlah kondisi yang dapat diabaikan begitu saja karena berpotensi menimbulkan komplikasi serius. Jika tidak ditangani dengan tepat, angina pektoris dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih berbahaya hingga mengancam nyawa. Nyeri dada yang berulang menandakan bahwa jantung sedang mengalami kekurangan oksigen secara konsisten. Semakin sering angin duduk terjadi, maka semakin besar risiko kerusakan permanen pada otot jantung yang dapat mempengaruhi fungsinya secara keseluruhan.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore