Logo JawaPos
Author avatar - Image
17 Oktober 2025, 00.08 WIB

Terapi Hormon Selama Perimenopause Dapat Memperlambat Penuaan pada Wanita, Begini Kata Peneliti

Ilustrasi dua perempuan tua (Dok. Freepik)

JawaPos.com - Penuaan adalah proses alami yang tak dapat dihindari, namun laju penuaan ternyata bisa berbeda antara satu orang dengan lainnya. Sebuah studi terbaru menemukan bahwa wanita pasca menopause yang menjalani terapi hormon selama masa perimenopause tampak menua lebih lambat dibandingkan mereka yang tidak menjalani terapi serupa. Penemuan ini memberikan harapan baru bahwa keseimbangan hormon memainkan peran besar dalam menjaga vitalitas dan kesehatan tubuh wanita di usia lanjut.

Melansir dari Medical News Today, dalam penelitian berskala besar yang melibatkan lebih dari 117 ribu wanita pasca menopause yang terdaftar di UK Biobank, para peneliti menemukan bahwa sekitar 40 persen partisipan pernah menggunakan terapi hormon dalam hidup mereka. Menariknya, kelompok ini menunjukkan tanda-tanda penuaan biologis yang lebih lambat dibandingkan dengan wanita yang tidak pernah menggunakan terapi hormon. Efek perlambatan penuaan paling kuat terlihat pada wanita yang mulai menjalani terapi hormon di usia sekitar 48 tahun dan melanjutkannya selama empat hingga delapan tahun.

Yang lebih mengejutkan, manfaat terbesar justru dirasakan oleh wanita dengan status sosial ekonomi rendah. Menurut para peneliti, terapi hormon seolah mampu "menghapus" dampak negatif dari kondisi ekonomi rendah terhadap proses penuaan. Sebaliknya, pada wanita berpenghasilan tinggi, efeknya tidak terlalu signifikan karena kelompok ini umumnya telah memiliki gaya hidup dan kondisi kesehatan yang mendukung proses penuaan yang lebih lambat.

Penelitian ini diterbitkan dalam jurnal medis JAMA Network Open dan menjadi salah satu studi terbaru yang menyoroti manfaat terapi hormon di masa transisi menuju menopause.

Memahami Penuaan Fenotipik

Untuk menilai tingkat penuaan para partisipan, para ilmuwan menggunakan konsep "penuaan fenotipik". Menurut Yufan Liu dari Capital Medical University di Beijing, penuaan fenotipik bukan hanya menghitung usia kronologis, tetapi juga mengukur tanda-tanda biologis tubuh seperti fungsi organ, kadar biomarker, dan keseimbangan sistem tubuh. Artinya, seseorang mungkin berusia 55 tahun secara kronologis, namun secara biologis bisa lebih muda atau lebih tua tergantung pada kondisi tubuhnya.

Dengan membandingkan usia kronologis dan usia fenotipik, para peneliti dapat menilai seberapa cepat seseorang menua. Hasil studi menunjukkan bahwa wanita pengguna terapi hormon memiliki "usia biologis" yang lebih muda dibandingkan mereka yang tidak menggunakannya, menandakan efek pelindung terhadap proses penuaan di tingkat seluler.

Waktu terbaik untuk mendapatkan manfaat dari terapi hormon, menurut penelitian ini, adalah selama masa perimenopause, periode beberapa tahun sebelum menstruasi berhenti sepenuhnya. Pada tahap ini, kadar estrogen mulai berfluktuasi drastis, menyebabkan gejala seperti hot flashes, gangguan tidur, perubahan suasana hati, dan kekeringan pada vagina.

Terapi Hormon dan Tantangan Sosial Ekonomi

Menurut para peneliti, hubungan antara terapi hormon dan status sosial ekonomi memberikan wawasan menarik. Yufan Liu menjelaskan bahwa wanita dengan kondisi sosial ekonomi rendah yang menjalani terapi hormon menunjukkan kesenjangan penuaan biologis yang lebih kecil dibandingkan kelompok dengan kondisi serupa yang tidak mendapat terapi. Hal ini menunjukkan bahwa terapi hormon mungkin membantu mengimbangi dampak kesehatan negatif yang biasanya terkait dengan status ekonomi rendah, seperti stres kronis, nutrisi buruk, atau keterbatasan akses ke layanan kesehatan.

Meski begitu, Liu mengingatkan bahwa hasil ini perlu diinterpretasikan dengan hati-hati. Mungkin saja wanita dengan status sosial tinggi sudah memiliki gaya hidup yang mendukung penuaan sehat, seperti pola makan seimbang, aktivitas fisik rutin, dan akses medis yang lebih baik. Karena itu, manfaat terapi hormon bagi kelompok ini cenderung tidak sebesar pada kelompok ekonomi rendah yang mengalami tekanan fisiologis dan sosial lebih tinggi.

Selain itu, penelitian ini menyoroti pentingnya waktu dalam penggunaan terapi hormon. Penggunaan yang dimulai saat perimenopause tampak memberikan hasil yang jauh lebih baik dibandingkan jika dimulai setelah wanita benar-benar memasuki menopause.

Risiko dan Manfaat Terapi Hormon

Meskipun terapi hormon menunjukkan manfaat signifikan terhadap perlambatan penuaan dan peningkatan kualitas hidup, penggunaannya tidak lepas dari risiko. Setelah menopause, terapi ini dikenal sebagai terapi pengganti hormon (HRT) dan sering digunakan untuk menjaga kepadatan tulang serta mencegah osteoporosis. Estrogen, hormon utama dalam terapi ini, membantu mempertahankan penyerapan kalsium dalam tulang. Tanpa estrogen, wanita dapat kehilangan massa tulang dengan cepat, meningkatkan risiko patah tulang di usia lanjut.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore