Logo JawaPos
Author avatar - Image
28 Oktober 2025, 17.14 WIB

Pakar Tegaskan Klaim Sumber Air Pegunungan Harus Berdasar Pada Penelitian Hidrogeologi dan Analisis Hidro Isotop

Ilustrasi air minum. (Pexels) - Image

Ilustrasi air minum. (Pexels)

JawaPos.com — Asal-usul sumber air pegunungan yang digunakan oleh produsen air minum Aqua masih menjadi perdebatan di kalangan publik. Mengomentari hal tersebut, pakar hidrogeologi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Profesor Heru Hendrayana menegaskan bahwa penentuan apakah suatu sumber air layak disebut sumber air pegunungan tidak bisa dilakukan sembarangan, tetapi harus didasarkan pada penelitian hidrogeologi dan analisis hidro isotop.

Sebagai salah satu tim ahli yang ikut meninjau sumber air di pabrik Aqua Subang, Prof. Heru memastikan bahwa sumber air yang digunakan memiliki karakteristik yang sama dengan sumber air pegunungan yang berasal dari wilayah tangkapan air di Gunung Tangkuban Perahu.

“Sumber airnya memang berasal dari sistem hidrogeologi pegunungan. Itu dibuktikan lewat penelitian isotop yang menunjukkan kesamaan DNA sumber airnya dengan air yang turun dan tersimpan di sumber air pegunungan di mana pabrik Aqua berada,” jelasnya dalam keterangan tertulis yang diterima.

Heru juga menegaskan bahwa, sumber air pegunungan tidak selalu harus diambil dari puncak gunung. Secara ilmiah, sumber air yang berasal dari lereng, kaki, atau dataran tinggi yang masih termasuk dalam sistem sumber air pegunungan juga tergolong sumber air pegunungan, selama asal-usulnya memang dari kawasan tersebut.

“Jadi, lokasi pengambilan bisa di berbagai titik dalam sistem sumber air pegunungan, yang penting asal hidrologinya sama,” katanya.

Melalui riset isotop, lanjutnya, para ahli dapat mengetahui asal muasal sumber air dan ketinggian tempat hujan jatuh yang menjadi sumbernya. “Setiap sumber air punya DNA-nya sendiri. Dari isotop air, kita bisa mendeteksi apakah sumber air itu benar berasal dari sumber air pegunungan atau bukan. Dalam kasus Aqua, hasilnya menunjukkan bahwa karakter sumber airnya sesuai dengan sumber air pegunungan,” ujarnya.

Heru juga meluruskan persepsi bahwa sumber air pegunungan harus selalu berasal dari mata air di permukaan gunung. “Tidak semua mata air di gunung merupakan sumber air pegunungan. Ada yang hanya berasal dari air hujan dangkal yang cepat keluar kembali ke permukaan. Sumber air seperti itu berbeda dengan yang telah melalui sistem batuan dan proses alami di sumber air pegunungan,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa sumber air permukaan terbuka, seperti air hujan langsung atau genangan, tidak digunakan oleh industri AMDK besar karena berisiko terpapar cemaran.

“Yang perlu diwaspadai justru produk kecil yang mengklaim sumber air pegunungan tanpa bukti ilmiah. Sebuah perusahaan air minum harus memiliki riset komprehensif untuk membuktikan asal dan kualitas sumber airnya,” tutupnya.

Sebelumnya, Badan Perlindungan Konsumen Nasional Republik Indonesia (BPKN RI) siap memanggil manajemen dan Direktur Utama PT Tirta Investama selaku produsen air minum kemasan merek Aqua terkait dugaan sumber air produksi dari sumur bor atau air tanah bukan air pegunungan.

Rencana pemanggilan tersebut dilakukan, setelah muncul dugaan bahwa sumber air produksi berasal dari sumur bor atau air tanah, bukan dari mata air pegunungan sebagaimana diklaim dalam iklan produk mereka selama ini.

Isu ini mencuat setelah hasil inspeksi di salah satu pabrik AQUA menunjukkan penggunaan air tanah dari sumur bor dalam proses produksi. Padahal, dalam berbagai iklan televisi dan media digital, Aqua selama ini dikenal dengan slogan “Air pegunungan yang murni dan alami”, yang memberi kesan bahwa airnya berasal langsung dari sumber mata air pegunungan.

Temuan tersebut menimbulkan pertanyaan publik terkait kejujuran klaim iklan dan transparansi sumber air, terutama karena label dan citra merek Aqua telah lama mengasosiasikan diri sebagai air murni dari pegunungan.

Editor: Banu Adikara
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore