Logo JawaPos
Author avatar - Image
29 Oktober 2025, 02.43 WIB

Menkes Budi Gunadi Sadikin Sebut Ancaman Biologis di Sektor Kesehatan Nasional Semakin Serius

Menkes Budi Gunadi Sadikin. (Istimewa) - Image

Menkes Budi Gunadi Sadikin. (Istimewa)

JawaPos.com - Ancaman biologis kini menjadi salah satu risiko strategis terbesar bagi sistem kesehatan dunia, mulai dari wabah penyakit menular yang cepat menyebar, mutasi patogen baru, hingga potensi penyalahgunaan teknologi biologi untuk tujuan destruktif. 

Di tengah lanskap global yang makin kompleks ini, Indonesia menegaskan kesiapannya membangun ketahanan biosecurity nasional lewat forum 2nd International Military Medicine (IMEDIC) Symposium and Workshop yang digelar di Jakarta baru-baru ini.

Dengan tema “Biosecurity and Biosafety in Healthcare Services”, forum ini menjadi ruang strategis bagi kementerian, komunitas medis militer, akademisi, dan pakar kesehatan untuk berbagi pengetahuan, memamerkan teknologi mutakhir, serta merumuskan strategi kolaboratif menghadapi ancaman biologis lintas batas yang berpotensi melumpuhkan layanan kesehatan nasional.

Dalam kesempatan tersebut, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa pengalaman pandemi COVID-19 harus menjadi pelajaran penting. Sistem deteksi dini, laboratorium, dan respons cepat tidak boleh lagi bergantung pada situasi darurat.

“Teknologi rapid test dan biologi molekuler harus dikuasai, infrastrukturnya dipenuhi, dan tersebar merata agar deteksi dini berjalan cepat,” ujar Budi. 

Menurutnya, ancaman biologis tidak hanya datang dari alam, tetapi juga bisa muncul akibat kecelakaan laboratorium atau bahkan serangan bioterorisme yang saat ini semakin serius dan banyak terjadi di negara-negara maju.

“Penguatan jaringan laboratorium di seluruh Indonesia penting untuk memastikan rantai kewaspadaan nasional tidak terputus. Kalau perlu, kita siapkan proxy di luar negeri agar pencegahan ancaman biosecurity dan biosafety dapat dilakukan lebih dini,” lanjutnya.

Budi menekankan, kesiapsiagaan menyeluruh dari hulu ke hilir harus menjadi prioritas, mencakup peningkatan kapasitas SDM, penjaminan mutu, serta integrasi data laboratorium nasional. 

“Kita harus punya sistem pertahanan biologis yang tidak hanya reaktif, tapi juga proaktif,” tegasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri Pertahanan Donny Ermawan Taufanto menyebut bahwa biosecurity dan biosafety kini menjadi bagian integral dari strategi pertahanan nasional.

“Ancaman biologis adalah bentuk perang generasi baru yang tak selalu terlihat. Ketika sistem kesehatan lumpuh, efeknya bisa lebih menghancurkan dibandingkan konflik bersenjata,” ujarnya.

Donny menilai forum seperti IMEDIC sangat penting untuk menyatukan perspektif pertahanan dan kesehatan publik. “Kami ingin hasil konkret, bukan sekadar diskusi akademik. Pelatihan, pembaruan kurikulum, dan kerja sama riset internasional harus segera diterjemahkan ke dalam aksi nyata,” tegasnya.

Menurutnya, kesiapan tenaga medis militer menghadapi ancaman biologis perlu ditingkatkan lewat simulasi lapangan dan pelatihan lintas negara agar respons cepat bisa dilakukan tanpa menunggu eskalasi krisis.

Selain itu, Ketua Perkumpulan Kedokteran Militer (Perdokmil) Mayjen TNI (Purn.) Dr. dr. Prihati Pujowaskito menegaskan bahwa ancaman biologis tidak mengenal batas sektor. 

“Ketahanan kesehatan nasional hanya bisa dibangun melalui kolaborasi antara militer dan sipil, dari laboratorium hingga rumah sakit lapangan,” ujarnya.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore