Logo JawaPos
Author avatar - Image
30 Oktober 2025, 20.38 WIB

Mengenal Dissociative Fugue: Saat Pikiran Terlepas dari Kenyataan dan Ingatan Menghilang Sementara

Wanita dengan gangguan pikiran (dok. stocksy) - Image

Wanita dengan gangguan pikiran (dok. stocksy)

JawaPos.com - Ada kalanya seseorang tiba-tiba menemukan dirinya di tempat asing tanpa tahu bagaimana bisa sampai di sana. Mereka mungkin tidak ingat nama, pekerjaan, atau bahkan siapa diri mereka sebenarnya. Kondisi ini dikenal sebagai dissociative fugue, suatu gangguan mental langka yang membuat seseorang mengalami kehilangan ingatan sementara dan terlepas dari kenyataan. Meski terdengar seperti kisah fiksi, kondisi ini nyata dan dapat menimbulkan risiko serius bagi keselamatan penderitanya.

Dilansir melalui Medical News Today, dissociative fugue adalah keadaan mental di mana seseorang kehilangan sebagian atau seluruh ingatan dan mulai mengembara tanpa arah yang jelas. Dalam fase ini, individu bisa tiba-tiba meninggalkan rumah atau tempat kerja, bahkan melakukan perjalanan jauh tanpa menyadarinya. Setelah sadar, mereka biasanya tidak dapat mengingat bagaimana atau mengapa mereka pergi.

Kondisi ini bukan akibat dari kelupaan biasa. Ingatan sebenarnya masih ada di dalam diri mereka, tetapi sementara waktu tidak dapat diakses oleh kesadaran. Beberapa orang mungkin bisa mengembalikan ingatan mereka seiring waktu, terutama dengan bantuan terapi atau perawatan medis.

Secara harfiah, kata “fugue” berarti “melarikan diri”, sedangkan “dissociation” menggambarkan perasaan terpisah dari tubuh, pengalaman, atau realitas. Kombinasi keduanya menggambarkan keadaan di mana pikiran mencoba melarikan diri dari sesuatu yang sulit untuk dihadapi.

Gejala dan Ciri-Ciri Dissociative Fugue

Seseorang yang mengalami dissociative fugue mungkin tiba-tiba menyadari dirinya berada di tempat yang tidak dikenal, tanpa tahu bagaimana bisa sampai di sana. Mereka bisa tampak kebingungan, tidak tahu siapa diri mereka, atau kehilangan ingatan penting dalam hidupnya.

Bagi orang lain, penderita bisa tampak seperti sedang tersesat. Ketika ditanya, mereka mungkin tidak bisa menjawab pertanyaan sederhana seperti nama, asal, atau siapa yang dapat dihubungi untuk membantu mereka pulang. Meskipun tampak menakutkan, kondisi ini biasanya dapat dipulihkan, baik dengan waktu maupun melalui bantuan profesional.

Dalam beberapa kasus, penderita mungkin mengalami kebingungan total, tidak tahu mengapa mereka melakukan sesuatu, dan tampak hidup dalam realitas yang terputus. Ketika kesadaran kembali, ingatan mereka bisa kembali secara perlahan, meski tidak selalu sepenuhnya.

Contoh Kasus dan Perbandingan dengan Gangguan Lain

Salah satu contoh klasik adalah kisah seorang tentara yang pulang dari medan perang, lalu menghilang dari rumah tanpa mengingat siapa dirinya. Ada pula kasus seseorang yang mengalami kekerasan dalam hubungan, lalu melarikan diri dan hidup dengan identitas baru tanpa menyadari apa yang telah terjadi.

Kasus terkenal lainnya datang dari penulis Agatha Christie. Pada tahun 1926, ia ditemukan menginap di hotel dengan nama palsu setelah seminggu menghilang. Hingga kini, para peneliti masih memperdebatkan apakah ia mengalami dissociative fugue atau sengaja melarikan diri.

Dissociative fugue juga sering disamakan dengan dissociative amnesia. Bedanya, dissociative amnesia menyebabkan kehilangan ingatan tanpa disertai keinginan untuk berpindah tempat. Dalam fugue, hilangnya ingatan sering diikuti dengan keinginan atau dorongan untuk pergi ke tempat lain.

Ada pula perbandingan dengan dissociative identity disorder (DID), di mana seseorang memiliki lebih dari satu kepribadian. Pada DID, beberapa identitas atau “alter” bisa mengambil alih kesadaran. Namun, fugue tidak selalu melibatkan perubahan identitas, melainkan lebih kepada hilangnya ingatan dan orientasi diri.

Penyebab dan Penanganan Dissociative Fugue

Para ahli berpendapat bahwa penyebab utama kondisi ini adalah trauma. Pengalaman traumatis yang berat, seperti kekerasan, pelecehan, atau peristiwa mengancam nyawa, dapat membuat seseorang terlepas dari realitas sebagai bentuk perlindungan diri. Dissociative fugue mungkin menjadi mekanisme bawah sadar untuk melarikan diri dari rasa sakit emosional.

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore