Logo JawaPos
Author avatar - Image
27 November 2025, 04.22 WIB

5 Anak Meninggal karena Flu Babi di Riau, Kemenkes Ungkap Penyebabnya

Ilustrasi mayat / sumber: Radar Solo - Image

Ilustrasi mayat / sumber: Radar Solo

JawaPos.com - Lima anak di Dusun Datai, Kecamatan Batang Gansal, Kabupaten Indragiri Hulu, Riau, meninggal dunia akibat terinfeksi influenza A/H1pdm09 atau flu babi. Temuan ini disampaikan Kementerian Kesehatan setelah melakukan pemeriksaan laboratorium dan penyelidikan epidemiologi di wilayah tersebut. 

Selain itu, hingga 23 November 2025, sebanyak 224 warga dilaporkan mengalami Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Seluruhnya kini telah membaik, tetapi lima anak tidak terselamatkan.

Pemeriksaan laboratorium menunjukkan kelimanya positif influenza A/H1pdm09 serta Haemophilus influenzae, patogen yang memperparah infeksi pernapasan. Flu babi sebelumnya sempat menjadi wabah global pada 2009.

Penyelidikan epidemiologi mengungkap buruknya kondisi kesehatan dasar di Dusun Datai. Tidak ada fasilitas MCK, tidak tersedia tempat pembuangan sampah, ventilasi rumah sangat minim, dan aktivitas memasak dengan kayu bakar dilakukan di ruang yang sama dengan tempat tidur. Situasi ini membuat penyebaran penyakit pernapasan jauh lebih cepat, terutama pada anak-anak.

Selain masalah lingkungan, banyak warga ditemukan mengalami gizi kurang dan cakupan imunisasi dasar yang rendah. Tes laboratorium juga mendeteksi kombinasi multipatogen seperti pertusis, adenovirus, dan bocavirus. Kondisi ini memperkuat analisis bahwa rendahnya kekebalan tubuh meningkatkan risiko infeksi berulang.

Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Kemenkes, Sumarjaya, menegaskan bahwa persoalan ini bukan hanya soal medis, tetapi berkaitan erat dengan lingkungan dan perilaku hidup masyarakat.

“Kami menemukan rumah padat, ventilasi minim, nyamuk banyak, dan warga hidup dalam paparan asap kayu bakar setiap hari. Situasi seperti ini membuat penyakit pernapasan lebih mudah menular, terutama pada balita,” ujarnya dalam keterangannya, Rabu (26/11).

“Jika kondisi sanitasi, gizi, dan kebiasaan sehari-hari tidak diperbaiki, penularan akan terus berulang,” tambahnya.

Sebagai respons cepat, Kemenkes bersama pemerintah daerah melakukan pengobatan massal, memperkuat bantuan gizi, serta memprioritaskan balita dan ibu hamil melalui pemberian PMT, vitamin, dan pemantauan kesehatan. Edukasi mengenai etika batuk, penggunaan masker, dan PHBS juga digencarkan.

Tim kesehatan turut mengambil sampel tambahan untuk memastikan tidak ada patogen lain yang beredar, mengingat sebelumnya ditemukan campuran berbagai virus penyebab gejala ISPA.

Untuk jangka panjang, pemerintah mulai menyusun perbaikan lingkungan, termasuk pembangunan tempat pembuangan sampah, kerja bakti membersihkan area rawan nyamuk, serta pemisahan area memasak dan tidur di rumah warga. Media edukasi untuk sekolah-sekolah terpencil juga mulai disiapkan.

Sumarjaya menegaskan bahwa upaya penanganan tidak berhenti di pengobatan kasus.

“Kami ingin memutus siklus kerentanan ini. Intervensi lingkungan dan gizi adalah kunci agar kejadian seperti ini tidak terulang,” pungkasnya. 

Editor: Bintang Pradewo
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore