Ilustrasi anjloknya harga Bitcoin. (Dhimas Ginanjar/Dall E/JawaPos.com)
JawaPos.com – Pasar kripto memasuki fase ketakutan ekstrem pada Selasa (18/11), ditandai dengan keluarnya dana besar dari ETF Bitcoin selama empat hari berturut-turut dan jatuhnya harga BTC ke kisaran USD 91.000 (Rp 1,52 miliar). Indeks Fear and Greed merosot ke level 11, mencerminkan kepanikan pasar, sementara whale dan pemegang jangka panjang justru memanfaatkan koreksi ini untuk melakukan akumulasi besar-besaran.
Dikutip dari Beincrypto, Selasa (18/11), kepemilikan ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat anjlok dari 441.000 BTC pada 10 Oktober menjadi hanya 271.000 BTC pada pertengahan November. Dana keluar beruntun ini menjadi sinyal bahwa dukungan institusional yang sebelumnya menopang reli BTC kini melemah drastis. Meski outflow terbaru “hanya” sekitar USD 60 juta (Rp 1 triliun), tren empat hari berturut-turut menunjukkan momentum beli belum pulih.
Data spot dari Binance, Coinbase, Kraken, dan OKX menunjukkan ukuran order rata-rata justru meningkat, tanda jelas bahwa pembelian didominasi whale, bukan investor ritel. Retail memilih menjauh meski harga Bitcoin sudah turun hampir 27% dari rekor tertingginya di USD 126.272 (Rp 2,11 miliar) pada 6 Oktober.
Indeks Fear and Greed yang jatuh ke 11 semakin menegaskan suasana panik. Secara historis, level ini sering muncul mendekati titik bawah pasar, namun kali ini investor ritel tetap enggan masuk. Pada perdagangan pagi di Asia, BTC bertahan di kisaran USD 91.000–USD 92.000 (Rp 1,52–1,54 miliar) dan turun 13–14% dalam sepekan. Ethereum juga sempat tergelincir di bawah USD 3.000 (Rp 50,1 juta), sementara Solana melemah ke USD 130 (Rp 2,17 juta).
Sementara itu, whale memanfaatkan tekanan jual ini untuk menambah posisi. Menurut pemantauan OnchainLens, satu alamat membeli 10.275 ETH di harga USD 3.032 (Rp 50,4 juta) dengan total pembelian USD 31,16 juta (Rp 519,3 miliar) hanya dalam 24 jam.
Dalam periode 12–17 November, alamat tersebut mengumpulkan 13.612 ETH senilai USD 41,89 juta (Rp 699,6 miliar) dengan harga rata-rata USD 3.077 (Rp 51,3 juta).
Pada saat yang sama, permanent Bitcoin holders, wallet yang tidak pernah menunjukkan arus keluar, mencatat lonjakan akumulasi terbesar dalam beberapa siklus pasar. Mereka menambah posisi dari 159.000 BTC menjadi 345.000 BTC selama fase jual ini. Fenomena ini menunjukkan perbedaan mencolok antara perilaku pemegang jangka panjang dan trader jangka pendek yang melepas posisi.
CEO CryptoQuant, Ki Young Ju, menegaskan bahwa penurunan saat ini bukan ciri awal bear market baru. “Penurunan ini melibatkan rotasi antar pemegang jangka panjang, bukan masuknya modal baru. Ini bukan sinyal bear market struktural,” jelasnya. Namun ia menekankan bahwa kondisi saat ini bukan buy-the-dip klasik bagi investor ritel.
Tidak seperti fase crypto winter sebelumnya, siklus pasar kali ini menunjukkan dinamika baru. Sejumlah institusi besar seperti JPMorgan kini menerima Bitcoin sebagai agunan pinjaman, memperluas penggunaan BTC dalam sistem keuangan tradisional. Likuiditas yang lebih dalam membantu meredam tekanan jual, meskipun kondisi teknikal tetap bearish.
Bitcoin telah turun lebih dari 20% dari puncaknya, dan moving average 50 hari kini memotong ke bawah MA 200 hari, pola teknikal yang dikenal sebagai death cross. Tekanan ini semakin diperberat oleh kebijakan moneter. The Fed menunda pemangkasan suku bunga, sementara bank-bank sentral global masih mempertahankan pengetatan. Turunnya likuiditas Treasury juga menambah hambatan bagi aset berisiko.
Di sektor mining, Frank Holmes dari HIVE Digital Technologies menegaskan perusahaannya tetap akan menambang dan menyimpan Bitcoin, berbeda dengan kompetitor yang beralih ke high-performance computing (HPC). Ia menilai pembangunan data center GPU membutuhkan biaya besar dan kompleksitas tinggi, sehingga strategi mine-and-hold tetap dijalankan meski volatilitas meningkat.
Dengan BTC bergerak di area sensitif USD 90.000–USD 92.000, pasar kini menunggu arah berikutnya: apakah tekanan jual akan memudar atau justru berkembang menjadi penurunan lebih dalam. Data makro, kebijakan bank sentral, dan arus ETF diperkirakan akan memainkan peran besar dalam beberapa hari ke depan.
Disclaimer: Artikel ini disajikan untuk tujuan informasi seputar perkembangan pasar kripto. Bukan merupakan ajakan atau rekomendasi investasi. Aset digital memiliki risiko tinggi, pastikan Anda memahami risikonya sebelum berinvestasi.
