Logo JawaPos
Author avatar - Image
08 Oktober 2025, 05.09 WIB

Kenapa Makanan Pedas Bisa Bikin Ketagihan? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Cabai dengan zat capsaicin di dalamnya penyebab rasa pedas (Dok. Freepik)

JawaPos.com - Bayangkan sepiring nasi hangat, ayam goreng renyah, dan sambal merah yang baru saja diulek. Satu sendok saja, rasanya langsung membakar lidah, membuat keringat mengucur di dahi, tapi entah kenapa tangan tetap ingin menyendok lagi. Bagi sebagian orang, sensasi pedas ini seperti hukuman yang menyenangkan. Lalu, apa sebenarnya yang terjadi di tubuh kita saat menikmati makanan pedas?

Menurut Scientific American, sensasi pedas sebenarnya bukan "rasa" seperti manis atau asin, melainkan reaksi kimia yang menipu otak kita. Pelakunya adalah capsaicin, zat aktif yang terkandung dalam cabai. Ketika capsaicin bersentuhan dengan lidah, ia menempel pada reseptor saraf yang bernama TRPV1, yaitu reseptor yang biasanya mendeteksi suhu panas. Akibatnya, otak mengira lidah sedang terbakar, padahal tidak ada api sama sekali. Jadi, rasa "terbakar" saat makan pedas hanyalah sinyal palsu yang membuat tubuh panik sebentar.

Menariknya, manusia justru menikmati sensasi "panas" itu. Para peneliti menyebut fenomena ini sebagai benign masochism, yaitu perilaku ketika seseorang menikmati pengalaman yang terasa tidak nyaman, tapi tahu bahwa itu aman. Sama seperti ketika kita menikmati film horor atau olahraga ekstrem. Ada rasa takut, tapi juga ada adrenalin yang memicu rasa puas setelahnya. Begitu juga dengan sambal atau makanan pedas: rasa sakitnya hanya sementara, tapi efek puasnya bertahan lebih lama.

Dari sisi biologis, tubuh punya cara tersendiri untuk menenangkan diri setelah "terkejut" oleh pedas. Healthline menjelaskan bahwa ketika capsaicin mengaktifkan reseptor panas, otak merespons dengan melepaskan endorfin dan dopamin, dua hormon yang berperan dalam menciptakan perasaan bahagia dan lega. Kombinasi keduanya menimbulkan efek euforia ringan seperti perasaan lega setelah berolahraga. Inilah yang membuat banyak orang merasa ketagihan, karena tubuh mereka secara tidak sadar ingin kembali merasakan "ledakan rasa senang" yang sama setiap kali makan pedas.

Namun, kecintaan terhadap pedas tidak hanya berhenti di level biologi. LiveScience menambahkan bahwa ada unsur psikologis dan budaya di baliknya. Rasa pedas sering dianggap sebagai bentuk tantangan. Orang yang senang hal-hal ekstrem cenderung juga suka makanan pedas. Ada unsur risk-and-reward, yaitu rasa puas yang datang setelah berhasil menaklukkan tantangan kecil di lidah. Sensasi panas yang tadinya menyiksa justru berubah jadi kebanggaan: semakin tahan terhadap pedas, semakin "jago" rasanya.

Selain itu, preferensi terhadap rasa pedas juga bisa dipengaruhi oleh kebiasaan dan lingkungan sosial. Di Indonesia misalnya, makan tanpa sambal terasa seperti makan tanpa jiwa. Dari kecil, lidah kita sudah terbiasa dengan sensasi pedas baik dari sambal, balado, rica-rica, sampai gulai pedas khas daerah. Karena terbiasa, ambang toleransi terhadap capsaicin pun meningkat, membuat kita membutuhkan "tingkat pedas" yang lebih tinggi untuk mendapatkan sensasi yang sama. Itulah sebabnya orang Indonesia bisa dengan santai menikmati makanan yang mungkin dianggap "terlalu pedas" oleh orang asing.

Selain memberikan kenikmatan tersendiri, makanan pedas ternyata juga punya manfaat kesehatan. Berdasarkan ulasan dari Cleveland Clinic, capsaicin diketahui dapat membantu meningkatkan metabolisme tubuh, mempercepat pembakaran kalori, dan bahkan membantu mengontrol nafsu makan. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa orang yang rutin mengonsumsi makanan pedas memiliki risiko kematian lebih rendah akibat penyakit jantung atau gangguan metabolik. Ini karena senyawa capsaicin membantu melancarkan aliran darah dan menurunkan kadar kolesterol jahat.

Tapi tentu saja, segala sesuatu yang berlebihan tetap tidak baik. Dokter dari Cleveland Clinic juga mengingatkan bahwa terlalu sering makan pedas bisa memicu iritasi pada lambung atau menyebabkan rasa terbakar di saluran pencernaan. Apalagi kalau dikonsumsi dalam keadaan perut kosong. 

Makan pedas memang bisa menjadi tantangan tersendiri, tapi penting untuk tetap sadar akan kesehatan dan kemampuan tubuh kita. Pada akhirnya, rasa pedas bukan hanya soal sensasi membakar lidah. Ia adalah perpaduan unik antara sensasi, tantangan, dan kenikmatan yang sulit dijelaskan. Mungkin itulah mengapa kita rela meneteskan air mata dan keringat demi sepiring sambal yang "menampar" lidah.

Di balik panas yang menggigit itu, tersimpan pengalaman emosional dan biologis yang membuatnya begitu menarik dan menjadi bukti bahwa makanan bisa memberikan sensasi lebih dari sekadar rasa. 

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore