Logo JawaPos
Author avatar - Image
11 Oktober 2025, 02.42 WIB

Orang yang Menolak Pergi ke Dokter Saat Merasa Sakit Biasanya Tunjukkan 7 Ciri Ini Menurut Psikologi

seseorang yang menolak pergi ke dokter saat merasa sakit (Freepik/freepik) - Image

seseorang yang menolak pergi ke dokter saat merasa sakit (Freepik/freepik)

JawaPos.com - Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menemui orang yang keras kepala menolak pergi ke dokter, bahkan ketika tubuhnya jelas memberi sinyal bahwa ada sesuatu yang tidak beres.

“Ah, cuma masuk angin,” atau “Nanti juga sembuh sendiri,” adalah kalimat yang kerap mereka ucapkan.

Sekilas terdengar seperti bentuk optimisme atau penghematan, namun dari sudut pandang psikologi, kebiasaan ini bisa mencerminkan lebih dari sekadar ketidaknyamanan terhadap rumah sakit.

Di balik penolakan itu, sering tersembunyi pola pikir, pengalaman emosional, dan karakter tertentu yang memengaruhi cara seseorang menghadapi sakit dan ketakutan terhadap ketidakpastian.

Dilansir dari Geediting pada Kamis (9/10), terdapat tujuh ciri psikologis yang kerap ditemukan pada orang yang menolak pergi ke dokter saat merasa sakit.

1. Memiliki Mekanisme Penyangkalan (Denial) yang Kuat

Penyangkalan adalah salah satu mekanisme pertahanan diri yang paling umum. Orang dengan pola ini cenderung menolak kenyataan yang membuatnya tidak nyaman, termasuk kemungkinan dirinya sakit.

Dalam psikologi, ini disebut avoidance coping, yaitu strategi untuk menghindari masalah dengan berpura-pura bahwa masalah itu tidak ada.

Mereka lebih memilih mengabaikan rasa sakit ketimbang menghadapinya karena takut mendengar kabar buruk.

Misalnya, seseorang merasa nyeri dada tapi berpikir itu hanya karena lelah, padahal tubuh sedang memberi tanda bahaya.

2. Takut Diagnosis Buruk (Health Anxiety)

Ada orang yang justru semakin cemas ketika memikirkan hasil pemeriksaan medis. Fenomena ini disebut iatrophobia — ketakutan terhadap dokter atau prosedur medis.

Mereka berpikir, “Kalau ke dokter nanti malah ketahuan penyakit parah,” sehingga memilih tidak memeriksa sama sekali.

Secara paradoks, rasa takut itu membuat mereka lebih rentan karena tidak mendapat pertolongan tepat waktu.

Ini mencerminkan kecemasan eksistensial yang mendalam: ketakutan menghadapi ketidakpastian hidup dan kematian.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore