
Ilustrasi tangan memegang secangkir kopi dari kedai kopi, yang bagi sebagian orang terasa mewah padahal hanya rutinitas biasa. (Freepik)
JawaPos.com - Latar belakang ekonomi dan sosial tempat seseorang dibesarkan seringkali membentuk pandangan mereka tentang apa itu kemewahan dan apa itu kebutuhan dasar yang harus dimiliki setiap orang.
Apa yang dianggap sebagai rutinitas biasa oleh sebagian besar masyarakat dengan kondisi ekonomi yang mapan, bisa terasa seperti suatu kemewahan besar bagi orang yang tumbuh di keluarga kelas pekerja.
Penulis Global English Editing membagikan wawasan menarik tentang delapan hal yang terasa mewah bagi kalangan pekerja, padahal dianggap sepele bagi orang lain.
Perbedaan pandangan ini bukanlah tentang masalah finansial yang sedang dihadapi, tetapi lebih tentang apa yang dianggap "mewah" ketika otak seseorang mulai belajar memahami arti uang saat masih kecil.
1. Makan di Restoran Chain Tanpa Alasan Khusus
Restoran chain dengan menu terpisah yang berjejer dan refill roti tak terbatas seperti Olive Garden seringkali terasa sangat mewah. Tempat-tempat ini biasanya hanya didatangi saat ada momen perayaan penting, seperti ulang tahun atau pesta akhir musim setelah kompetisi. Bagi yang tumbuh besar di lingkungan kelas pekerja, masih ada sedikit rasa penasaran ketika seseorang tiba-tiba mengajak makan di tempat semacam itu: "Acara apa ini?"
2. Membeli Bunga Segar untuk Dekorasi Rumah
Membeli bunga segar di toko kelontong setiap minggu tanpa alasan khusus terasa seperti suatu pemborosan yang tidak penting. Bunga biasanya hanya dibeli untuk acara tertentu seperti Hari Ibu, acara pemakaman, atau saat seseorang benar-benar melakukan kesalahan besar. Menghabiskan uang untuk hal yang akan layu dalam seminggu tampaknya tidak masuk akal, padahal bagi sebagian orang, bunga segar hanyalah bagian dari membuat rumah terasa nyaman dan indah.
3. Membeli Buku daripada Menggunakan Layanan Perpustakaan
Bagi yang dibesarkan di keluarga kelas pekerja, perpustakaan ada untuk tujuan ini mengapa harus membayar sesuatu yang bisa dipinjam secara gratis saja. Bahkan saat sudah dewasa dan mapan, pergi ke toko buku dan membeli banyak buku seringkali masih terasa seperti tindakan yang sangat memanjakan diri sendiri. Sementara itu, banyak orang yang membeli buku seperti mereka membeli bahan makanan tanpa berpikir dua kali sebab itu adalah kebutuhan yang harus dipenuhi.
4. Membeli Kopi dari Kedai Kopi Khusus
Ayah penulis selalu membuat kopi dengan panci percolator yang sama selama puluhan tahun di rumah, sehingga membayar mahal untuk secangkir kopi akan tampak aneh. Hingga kini, masih ada rasa bersalah setiap kali memesan kopi di kafe, sebab ada suara di kepala yang berbisik, "Anda bisa membuatnya di rumah dengan biaya lima ratus rupiah." Suara itu mengabaikan fakta bahwa bagi orang lain, Starbucks adalah tempat biasa untuk mendapatkan kopi setiap hari.
5. Membuang Sisa Makanan Begitu Saja
Ada orang yang membuang makanan yang masih layak dimakan, seperti setengah sandwich atau beberapa suap pasta, ke tempat sampah tanpa berpikir ulang. Di rumah kelas pekerja, sisa makanan adalah menu untuk waktu makan berikutnya yang akan dihabiskan sampai benar-benar tidak tersisa lagi di piring. Bagi mereka, membuang makanan terasa seperti dosa moral yang tidak hanya sekadar pemborosan biasa dalam rumah tangga.
6. Mengupah Orang untuk Tugas yang Bisa Dikerjakan Sendiri
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
