Logo JawaPos
Author avatar - Image
26 Oktober 2025, 14.36 WIB

10 Kebiasaan Ini Bukan Tanda Malas, Melainkan Tanda Seseorang Mengalami Kelelahan Emosional

ilustrasi seseorang duduk sambil menatap jendela, menunjukkan kelelahan emosional yang tersembunyi. (Freepik) - Image

ilustrasi seseorang duduk sambil menatap jendela, menunjukkan kelelahan emosional yang tersembunyi. (Freepik)

JawaPos.com - Terkadang label "malas" sering dilontarkan secara mudah untuk menggambarkan seseorang yang tampak kurang bersemangat atau produktif dalam melakukan pekerjaan harian mereka.

Padahal, perilaku tersebut seringkali merupakan manifestasi dari kondisi yang lebih kompleks, yaitu kelelahan emosional parah yang dikenakan dengan pakaian kesunyian. I

ndividu yang mengalami ini tetap bergerak dan menjalani rutinitas, tetapi energi internal mereka sudah redup dan sangat minim untuk melakukan apapun.

Melansir dari Global English Editing, mengenali perbedaan antara kemalasan dan kelelahan emosional adalah langkah awal untuk menawarkan dukungan yang tepat dan penuh kasih sayang kepada mereka.

1. Cenderung Memilih Keputusan Kecil untuk Menghindari Keputusan Besar

Orang yang kelelahan emosional dapat dengan mudah memilih makanan yang ingin dimakan, namun mereka akan kesulitan mengambil keputusan jangka panjang untuk hidupnya. Tanggapan seperti "terserah saja" atau "kamu yang pilih" bukan berarti mereka apatis, tetapi merupakan strategi untuk memprioritaskan energi yang tersisa. Keputusan besar membutuhkan bahan bakar emosional seperti harapan dan toleransi risiko, sementara tangki energi mereka sedang berkedip merah. Memilih hal-hal sepele terasa lebih aman karena tidak menuntut konsekuensi emosional apapun yang berat.

2. Terlalu Banyak Jadwal Tugas Mikro dan Menghindari Tugas Penting

Daftar tugas mereka akan penuh dengan pekerjaan kecil yang terfragmentasi, seperti "membalas e-mail Mark" atau "menyiram tanaman" di rumah. Sementara itu, tugas besar yang bisa mengubah hidup seperti menelepon dokter atau memperbarui resume, terus ditunda ke hari berikutnya. Ini bukanlah kemalasan, melainkan sistem saraf yang mencari kemenangan kecil yang dapat diselesaikan dalam waktu singkat. Tugas mikro memberikan sedikit perasaan "saya masih bisa bekerja", sedangkan tugas penting meminta mereka untuk kembali peduli, dan itu terasa terlalu menguras energi.

3. Ritual Self-Care Berubah Menjadi Perawatan Minimum

Saat masih memiliki banyak energi, mereka akan menyeduh kopi dengan benar, mandi yang lama, dan memakai handuk terbaik pada hari-hari tertentu. Kini, perawatan diri hanya sebatas membersihkan diri secepatnya dan menggunakan baju seadanya. Tujuan mereka bukan lagi mencari kenyamanan, melainkan hanya pemenuhan kepatuhan harian yang mendasar. Kemewahan kenyamanan menuntut kehadiran jiwa secara utuh, dan hadir sepenuhnya justru terasa menyakitkan bagi mereka.

4. Menceritakan Hidup dengan Jalan Pintas Pesimis

Perhatikan ungkapan yang diucapkan dengan berbisik-bisik, seperti "sudah kuduga", "tentu saja", atau "untuk apa repot-repot". Ini adalah upaya untuk mengurangi dampak kekecewaan, dan terlihat seperti sikap negatif, padahal sebenarnya adalah mekanisme perlindungan diri. Kelelahan emosional mengajarkan pikiran untuk keliru menganggap perlindungan diri sebagai prediksi masa depan yang sudah pasti akan terjadi buruk. Memberikan bingkai ulang yang netral jauh lebih baik daripada sekadar dorongan untuk berpikir positif.

5. Berhenti Memulai Sesuatu

Paket yang baru dibeli akan teronggok di depan pintu, buku dibiarkan dengan tanda terima di halaman pertama, dan peralatan hobi baru tetap terbungkus rapi. Memulai sesuatu yang baru membutuhkan kepercayaan pada masa depan. Kelelahan adalah pencuri masa depan, membuat mereka tidak memiliki dorongan untuk melakukan apapun. Menumpuknya kotak yang belum dibuka adalah tanda bahwa orang tersebut sedang menjalankan hidup dengan bahan bakar yang hampir habis.

6. Menerima Pilihan Orang Lain sebagai Preferensi

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore