
Ilustrasi seseorang yang tampak duduk di kursi dan berpikir di rumah. (Freepik)
JawaPos.com - Banyak orang yang secara alami berjiwa murah hati, sering kali menganggap diri mereka baik hati dengan mengorbankan waktu dan energi pribadi. Pada akhirnya, sikap ini bisa berubah menjadi "memberi berlebihan" yang dilakukan secara diam-diam. Mereka menyembunyikan keinginan putus asa untuk dianggap baik dan sabar.
Orang-orang ini sering berkata "ya" pada setiap permintaan, mengambil lebih banyak tanggung jawab daripada yang bisa mereka tangani, dan merasa kesal secara rahasia saat pengorbanan mereka tidak diperhatikan.
Melansir dari Geediting.com Jumat (31/10), baru setelah mulai belajar menetapkan batasan, seseorang dapat menyadari betapa parahnya mereka selama ini memberi secara berlebihan. Proses ini pada awalnya mungkin terasa canggung dan emosional, tetapi terasa sangat membebaskan.
1. Belajar Berhenti Sejenak Sebelum Mengatakan "Ya"
Satu di antara hal yang paling kuat dan sederhana adalah mengambil jeda sebelum langsung menjawab permintaan bantuan. Secara naluriah, mereka cenderung menjawab "ya" tanpa memeriksa ketersediaan waktu atau kapasitas emosional diri sendiri. Jeda kecil ini memberi ruang untuk mempertimbangkan apakah tindakan tersebut benar-benar diinginkan atau hanya didorong oleh rasa bersalah.
Mengatakan "ya" hanya ketika mereka benar-benar ingin membuat kontribusi tersebut menjadi lebih bermakna. Mereka menyadari bahwa membantu tidak berarti harus mengorbankan diri sendiri secara berlebihan.
2. Mulai Memberi Label pada Emosi, Bukan Menghakiminya
Menetapkan batasan juga berarti memperhatikan apa yang dirasakan ketika seseorang memberi berlebihan. Perasaan frustrasi atau kebencian adalah tanda peringatan dini bahwa batasan pribadi sudah dilanggar. Sekarang, ketika merasakan ketegangan atau iritasi, mereka berhenti sejenak untuk menamainya.
Memberi nama pada emosi membantu memahami apa yang terjadi di dalam diri alih-alih menyembunyikannya. Mendengarkan emosi adalah langkah awal yang penting untuk melindungi energi diri sendiri.
3. Berlatih Jujur Tanpa Perlu Penjelasan Panjang
Orang yang memberi berlebihan cenderung menjelaskan alasannya secara berlebihan saat menolak sebuah permintaan. Ini timbul dari rasa bersalah, takut dianggap membutuhkan alasan yang "cukup baik" untuk menjaga diri. Sekarang, mereka belajar untuk mengatakan "tidak" secara sederhana.
"Terima kasih sudah memikirkanku, tapi kali ini aku tidak bisa," adalah jawaban yang singkat dan jelas. Penjelasan yang terlalu panjang justru mengundang negosiasi. Sebaliknya, kesederhanaan mengundang pemahaman dan rasa hormat dari orang lain.
4. Mencatat Energi Seperti Mencatat Pengeluaran
Tiba-tiba, seseorang bisa menyadari setengah dari daftar tugas mereka adalah untuk kebutuhan orang lain. Mereka secara tidak sengaja sudah membuat energi emosional mereka bangkrut. Setelah setiap interaksi, mereka bertanya pada diri sendiri: "Apakah ini memberiku energi atau mengurasnya?"
Kesadaran ini membantu menciptakan "penjadwalan protektif" dan membatasi aktivitas yang menguras energi. Mereka mulai memblokir waktu untuk pemulihan setelah melakukan kegiatan yang sangat menguras tenaga.
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
