Logo JawaPos
Author avatar - Image
08 November 2025, 19.06 WIB

Mengapa Banyak Pria Merasa Tak Layak Dicintai dan Bagaimana Cara Mengubah Pola Pikir

Ilustrasi Pria Merasa Tak Layak Dicintai dan Bagaimana Cara Mengubah Pola Pikir  (Freepik) - Image

Ilustrasi Pria Merasa Tak Layak Dicintai dan Bagaimana Cara Mengubah Pola Pikir (Freepik)

 
JawaPos.com - Kesepian yang dialami pria bukan hanya soal tidak punya teman atau pasangan. Lebih dalam dari itu, banyak pria merasa tidak terlihat, tidak didengar, dan bahkan merasa tidak layak dicintai.

Fenomena ini semakin banyak dibahas dalam dunia psikologi modern, terutama sejak munculnya pembahasan tentang “male loneliness” atau kesepian pria. Namun di balik rasa sepi itu, ada akar yang lebih dalam, perasaan tidak berharga dan tidak pantas mendapatkan cinta.

Menurut penjelasan dari salah satu video di kanal youtube psikologi populer yakni Psych2Go, dalam artikel ini, kita akan membahas mengapa sebagian pria merasa tidak layak dicintai, dari mana perasaan itu berasal, dan bagaimana cara memulihkan diri agar bisa kembali membangun koneksi yang sehat dan bermakna.

1. Pola Asuh dan Penekanan Emosi Sejak Kecil

Banyak pria tumbuh dalam lingkungan yang menilai kerentanan sebagai kelemahan. Sejak kecil mereka diajarkan untuk “jadi laki-laki sejati” artinya harus kuat, tidak boleh menangis, dan harus menahan emosi.

Namun, penekanan emosi ini justru menciptakan bottleneck emosional. Ketika perasaan tidak pernah divalidasi, sebagian pria tumbuh dengan keyakinan bahwa cinta itu bersyarat: hanya bisa diterima jika mereka “berprestasi” atau memenuhi ekspektasi tertentu.

Masalahnya, emosi yang ditekan tidak menghilang, mereka hanya tertimbun lebih dalam. Akibatnya, di masa dewasa, banyak pria kesulitan mengekspresikan cinta dan menerima kasih sayang karena merasa tidak pantas menerimanya.

2. Tekanan Sosial dan Standar Tak Realistis

Masyarakat sering menilai nilai seorang pria dari pencapaian eksternal: jabatan, penghasilan, status sosial, atau penampilan fisik. Bagi mereka yang tidak sesuai dengan standar itu, rasa tidak cukup dan minder bisa muncul perlahan. Media sosial memperburuk hal ini, perbandingan dengan orang lain membuat banyak pria merasa gagal atau tidak berharga.

Padahal, cinta tidak pernah diukur dari status atau harta. Hubungan yang sehat tumbuh dari kejujuran, kepercayaan, dan koneksi emosional. Nilai diri sejati datang dari kemampuan untuk hadir secara autentik, bukan dari pencapaian yang terlihat oleh dunia.

3. Penolakan Berulang dan Luka Emosional

Pengalaman ditolak, entah karena patah hati, di-ghosting, atau cinta tak berbalas, bisa meninggalkan luka mendalam. Alih-alih melihat penolakan sebagai bagian alami dari hidup, banyak pria justru menginternalisasi rasa ditolak sebagai bukti bahwa mereka tidak pantas dicintai.

Dari sinilah siklus terbentuk, dari  takut ditolak, menarik diri, dan ujungnya semakin merasa kesepian. Padahal, setiap orang pernah gagal dalam hubungan. Yang membedakan adalah bagaimana kita memaknai dan belajar dari pengalaman itu. Ditolak oleh seseorang tidak berarti kita tidak berharga, bisa jadi kita hanya belum bertemu orang yang tepat untuk kita.

4. Masalah Kesehatan Mental dan Harga Diri Rendah

Depresi, kecemasan, atau trauma masa lalu dapat mengubah cara seseorang memandang diri sendiri. Bagi sebagian pria, kondisi ini menciptakan pikiran negatif seperti, “Aku beban bagi orang lain,” atau “Tidak ada yang benar-benar mau denganku.”

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore