Logo JawaPos
Author avatar - Image
14 Oktober 2025, 22.38 WIB

Kecam Program Xpose Uncensored Trans7, Alumni Pesantren Minta Pertanggungjawaban Sosial dan Hukum

Sejumlah alumni Pondok pesantren yang mengatasnamakan Himasal mendatangi gedung Trans7 di Jakarta Selatan terkait tayangan yang dinilai menghina santri dan kiai. (Istimewa) - Image

Sejumlah alumni Pondok pesantren yang mengatasnamakan Himasal mendatangi gedung Trans7 di Jakarta Selatan terkait tayangan yang dinilai menghina santri dan kiai. (Istimewa)

JawaPos.com - Tayangan video pada program Xpose Uncensored Trans7 terus menuai kritik.

Bukan hanya viral di media sosial, gelombang kritik terus bermunculan hingga tanda pagar (tagar) atau hastag Boikot Trans7 menjadi trending.

Terbaru, para alumni pesantren menyampaikan kecaman kepada pihak Trans 7 yang telah menayangkan video tersebut.  

Wakil Ketua Umum DPP Persatuan Alumni Pondok Pesantren Darul Ulum Banyuanyar Achmad Baidowi menyampaikan, video dan narasi dalam video itu menunjukkan bahwa Trans7 tidak paham kultur dan kehidupan di pondok pesantren.

Dia menilai video tersebut sebagai bentuk pelecehan yang merendahkan dan menyudutkan pesantren serta kiai.

”Tayangan tersebut telah menggiring persepsi publik secara negatif terhadap kehidupan pesantren dan kiai,” kata dia dalam keterangan yang disampaikan kepada awak media pada Selasa (14/10). 

Menurut pria yang biasa dipanggil Awiek tersebut, di Indonesia, sangat banyak pesantren dan kyai hidup secara mandiri, membiayai operasional pendidikan dengan harta pribadi, dan juga sumbangan dari para donatur tanpa paksaan.

Para kyai, lanjut dia, dengan ikhlas mengajarkan ilmu tanpa pamrih, apalagi sampai meminta-minta kepada negara. 

”Sumbangan dari umat, santri, alumni, dan simpatisan bukan untuk kebutuhan pribadi kiai tapi untuk pengembangan pesantren. Mereka membantu pesantren dan kyai dengan harapan mendapatkan barokah. Untuk kebutuhan pribadi, kyai  memiliki usaha mandiri yang tidak mengandalkan sumbangan,” imbuhnya. 

Ihwal santri yang berjalan menunduk sambil duduk ngesot sebagaimana dinarasikan dalam video yang ditayangkan oleh Trans7, lanjut dia, merupakan bentuk takdim kepada kyai atau ulama sebagai penerus perjuangan nabi.

Dia pun mengingatkan bahwa pondok pesantren sudah berdiri sebelum Republik Indonesia berdiri dan turut serta dalam perjuangan melawan penjajahan. 

”Pesantren telah banyak melahirkan tokoh-tokoh bangsa. Hal itu yang tidak bisa dilakukan oleh Trans7 beserta krunya. Meskipun perhatian negara belum sepadan dengan pengorbanan dan kontribusi pesantren, tetapi kyai dan pesantren tidak pernah mengeluh. Mereka tetap setia berada di garda terdepan dalam mendidik umat,” tegas Awiek.

Secara tegas dia menyatakan bahwa pesantren dan kiai selalu dan tetap terbuka atas segala masukan positif untuk pengembangan.

Namun, bukan pelecehan, penistaan dan penghinaan, seperti yang dilakukan oleh Trans7 melalui program Xpose Uncensored.

”Kami akan meminta pertanggungjawaban manajemen Trans7 baik secara hukum maupun sosial,” tandasnya. 

Editor: Bayu Putra
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore