
Penerima manfaat Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Jakarta (Dimas Choirul/Jawapos.com).
JawaPos.com - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu prioritas Presiden Prabowo Subianto sejak awal pemerintahannya terus menuai sorotan. Meski telah menjangkau 36,7 warga, kritik tajam tetap datang dari berbagai kalangan, termasuk dari mahasiswa dan pengguna media sosial.
Menanggapi hal itu, Tenaga Ahli Utama Badan Komunikasi Pemerintah Hariqo Wibawa Satria menegaskan, pemerintah tidak menutup diri terhadap kritik dan bahkan menjadikannya sebagai bahan evaluasi.
"Karena kami juga meyakini orang yang mengatakan makan beracun gratis itu kan sebetulnya pengen melihat MBG ini disajikan dengan sebaik-baiknya," ujar Hariqo saat mengunjungi JawaPos.com, Senin (20/10).
Menurutnya, setiap masukan yang datang, baik pedas maupun pahit, justru membantu memperbaiki pelaksanaan program tersebut agar semakin tepat sasaran dan berkualitas.
Hariqo menjelaskan bahwa pemerintah menyadari masih banyak kekurangan dalam pelaksanaan MBG.
"Oleh karena itu Pak Mensesneg, Pak Prasetyo Hadi itu langsung meminta maaf atas berbagai kekurangan dalam pelaksanaan MBG ini. Termasuk Pak Dadan juga meminta maaf. Kemudian pada jajaran BGN, Bu Nani juga minta maaf," jelasnya.
“Karena memang kita menyadari banyak sekali kekurangan dan kesalahan dalam program MBG ini. Sehingga dilakukan banyak sekali perbaikan-perbaikan dalam program MBG ini. Nah yang paling penting adalah pertama mengakui kesalahan itu,” tambahnya.
Hariqo juga menanggapi kritik dari badan eksekutif mahasiswa keluarga mahasiswa (BEM KM) UGM yang membuat plesetan kepanjangan MBG menjadi Makan Beracun Genosida. Ia kembali menegaskan, pemerintah tidak pernah memandang kritik terhadap MBG sebagai bentuk kebencian terhadap pemerintahan.
Namun, kritik juga harus berdasarkan fakta.
"Kalau kita masukin ke hati luar biasa. Itu ada yang ngomong makan beracun gratis. Bahkan ada salah satu BEM, kalau gak salah UGM itu. Dia tulis makan beracun genosida kalau gak salah," katanya.
Meski menggunakan istilah keras seperti "genosida", pemerintah memilih untuk tidak bereaksi berlebihan. Bagi Hariqo, kritik semacam itu justru menjadi pemicu bagi pemerintah untuk memperbaiki program agar lebih baik.
"Kan ngeri nih dia pake istilah genosida loh. Menggunakan istilah genosida ini kan gak bisa sembarangan. Ya begitu kita membaca ini, saya kebetulan juga kuliah di Jogja gitu loh. Apa gak ada kata-kata yang lain untuk mengkritisi MBG ini tapi oke lah gitu loh," ucapnya.
Hariqo menegaskan, di balik kritik yang ada, program MBG telah membawa manfaat nyata bagi masyarakat luas. Hingga kini, puluhan juta warga Indonesia sudah menikmati makan bergizi gratis setiap hari. Program MBG juga membuka lapangan kerja baru hingga 600 ribu orang di seluruh Indonesia.
Selain itu, MBG menjadi bagian penting dalam upaya menurunkan angka stunting, anemia dan memperbaiki pola makan anak-anak Indonesia. program ini merupakan fondasi menuju Indonesia Emas 2045, karena menyentuh langsung aspek kesehatan dasar masyarakat.
"Kalau kita sederhananya begini, kita melihat makan bergizi ini seperti aplikasi gitu loh. Semakin banyak kritik yang pahit, yang keras dari masyarakat, ini justru akan menyempurnakan dari makan bergizi gratis itu," jelasnya.
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
