Logo JawaPos
Author avatar - Image
25 Oktober 2025, 00.04 WIB

Menhut Raja Juli Temui Kapolri Listyo Sigit, Bahas Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan

Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo berdialog dengan Menhut Raja Juli Antoni terkait dengan penanggulangan karhutla di Indonesia. (Polri) - Image

Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo berdialog dengan Menhut Raja Juli Antoni terkait dengan penanggulangan karhutla di Indonesia. (Polri)

JawaPos.com - Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni menemui Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo di Mabes Polri, Jakarta Selatan (Jaksel) pada Jumat (24/10).

Dalam pertemuan itu, kedua pihak membahas optimalisasi penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia. 

Menurut Sigit, optimalisasi penanggulangan karhutla menjadi penekanan dalam pertemuan yang dilakukan bersama Menhut Raja Juli dan jajarannya.

Polri berkomitmen kuat untuk membantu penanggulangan karhutla semaksimal mungkin agar tidak terus merugikan negara dan masyarakat. 

”Saya baru saja menerima audiensi dari menteri kehutanan untuk memperkuat koordinasi dan mengoptimalkan pelaksanaan tugas dalam penanggulangan kebakaran hutan dan lahan,” ucap Sigit kepada awak media. 

Meski saat ini Indonesia sudah mulai memasuki musim hujan dan puncak musim hujan diprediksi terjadi pada November 2025-Februari 2026, namun karhutla tetap harus diwaspadai.

Khususnya pada titik-titik rawan. Apalagi cuaca panas juga masih terjadi di beberapa wilayah. 

”BMKG juga menjelaskan saat ini masih terjadi kondisi panas ekstrem di beberapa wilayah Indonesia. Di antaranya yang terjadi di Majalengka, Surabaya, Gorontalo, Kupang, hingga Sentani,” kata orang nomor satu di Korps Bhayangkara tersebut. 

Merujuk hasil monitoring titik hotspot pada periode Januari-22 Oktober 2025, terdapat 2.517 titik hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi atau confidence level high.

Sigit menyebut, angka itu menurun sebanyak 833 titik atau 24,8 persen dibandingkan periode yang sama pada 2024. Wilayah dengan titik hotspot paling tinggi adalah Riau, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Timur. 

”Kondisi ini disebabkan oleh rendahnya curah hujan, kondisi cuaca kering, angin kencang yang menyebabkan penyebaran titik api dengan cepat serta karakteristik wilayah yang sebagian besar merupakan lahan gambut,” jelasnya. 

Mantan Kabareskrim Polri itu pun menyampaikan bahwa Polri bersama Kemenhut dan instansi terkait lainnya sudah melakukan langkah-langkah mitigasi untuk mengoptimalkan penanggulangan Karhutla.

Tahun ini, Polri melaksanakan 27.621 kegiatan sosialisasi dan 11.949 kegiatan patroli. Sampai saat ini Polri bersama stakeholders terkait sudah membangun 4.032 embung atau kanal dan 1.457 menara pantau di beberapa wilayah rawan karhutla. 

”Dalam menghadapi ancaman karhutla yang berpotensi mengganggu stabilitas lingkungan,  ekonomi, dan sosial masyarakat, Polri bersama Kementerian dan Lembaga terkait berkomitmen melakukan langkah-langkah cepat, terpadu, dan berkesinambungan,” bebernya. 

Editor: Bayu Putra
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore