Logo JawaPos
Author avatar - Image
28 Oktober 2025, 02.27 WIB

Dalam Setahun Tangani 25.627 Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak, Menteri PPPA: Tahun Depan Tak Mau jadi Damkar

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi di kantor Kementerian Hukum (14/6). (Hilmi/Jawa Pos) - Image

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi di kantor Kementerian Hukum (14/6). (Hilmi/Jawa Pos)

JawaPos.com - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi mengaku setahun terakhir pihaknya sudah seperti pemadam kebakaran. Hal ini lantaran banyaknya kasus-kasus kekerasan perempuan dan anak yang ditangani pihaknya.

Penanganan dilakukan usai adanya pengaduan kasus. Pihaknya akan gerak cepat dengan berkoordinasi dengan dinas pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak setempat untuk memberikan penjangkauan hingga pemulihan. Alur ini yang membuatnya serasa jadi pemadam.

Sebagai informasi, dalam satu tahun terakhir, Kementerian PPPA telah menangani 25.627 kasus kekerasan dengan korban sebanyak 27.325 orang. Jumlah tersebut merupakan data yang tercatat melalui sistem informasi online perlindungan perempuan dan anak (simfoni ppa).

"Jadi, persis setahun ini kami mendapati bahwa selama setahun ini kami lebih banyak menjadi pemadam kebakaran. Tahun depan, kami tidak ingin hanya menjadi pemadam kebakaran," tuturnya dalam paparan capaian 1 tahun Kementerian PPPA, di Jakarta, Senin (27/10).

Menurutnya, pihaknya selalu ingin menyelesaikan masalah terkait pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak ini di tingkat hulunya. Apalagi, menjadi pemadam bukan merupakan solusi. Apalagi, dengan banyaknya kasus yang muncul setiap harinya. Di media saja, kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak bisa lebih dari 10 kasus per hari.

Karenanya, di tahun depan, pihaknya akan semakin memperkuat kerja sama dengan berbagai pihak, baik itu pemerintah, lembaga, ormas, hingga media untuk meningkatkan perlindungan terhadap perempuan dan anak ini. Setidaknya, dalam merespon lima hal yang menjadi penyebab terus meningkatnya kekerasan terhadap perempuan dan anak ini.

Pertama, faktor ekonomi. Arifah mengungkapkan, faktor ekonomi ini bisa berdampak ke banyak hal khususnya dalam sebuah keluarga. Mulai dari kesehatan, KDRT, pendidikan, dan lainnya.

"Sehingga kita nanti di tahun kedua, mitra-mitra kami yang bergerak di penguatan ekonomi, khususnya untuk ekonomi perempuan, akan kita bentuk jejaring," paparnya.

Kedua, pola asuh dalam keluarga. Saat ini, kata dia, banyak orang tua yang mengaku kesulitan dalam mengasuh anak-anaknya. Hal ini disebabkan oleh penggunaan gadget, yang juga menjadi faktor ketiga penyebab banyaknya kekerasan yang terjadi dewasa ini.

"Nah, untuk itu kami sudah menjalin kerjasama untuk bagaimana penguatan keluarga," ungkapnya.

Keempat, faktor lingkungan. Diakuinya, saat ini hubungan antara satu anggota masyarakat dengan yang lainnya kian berjarak. Kondisi ini disebabkan lagi-lagi penggunaan gadget yang berlebihan. Padahal, kekerasan dapat dicegah ataupun ditangani secara dini dengan solidaritas antar masyarakat di tingkat paling dasar.

Terakhir, faktor budaya. Pernikahan usia anak yang masih jadi “budaya” juga menjadi salah satu penyebab tingginya angka kekerasan. Sebab, anak belum matang secara fisik maupun psikologis untuk berumah tangga. Belum lagi jika hamil dan memiliki anak. Pihaknya sendiri telah berkoordinasi dengan Kementerian Agama untuk tidak gampang memberikan dispensasi perkawinan untuk usia anak.

"Jadi, pada tahun 2026 ini kami akan berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk bersama-sama menyelesaikan persoalan di tingkat hulu. Bukan hanya sebagai pemadam kebakaran," pungkasnya.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore